Capres petahana Joko Widodo dan cawapres Ma'ruf Amin menyampaikan pidato kemenangannya sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024 di Kampung Deret, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019)--Mi/Ramdani
Capres petahana Joko Widodo dan cawapres Ma'ruf Amin menyampaikan pidato kemenangannya sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024 di Kampung Deret, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019)--Mi/Ramdani

Napas Baru di Kampung Deret

Nasional kampung deret
Media Indonesia • 23 Mei 2019 12:35
Jakarta: Kehadiran kampung deret nyaris terlupakan dalam lima tahun terakhir. Kehadiran Presiden Joko Widodo ke kampung deret Tanah Tinggi, Johor Baru, Jakarta Pusat, Selasa, 21 Mei 2019, laksana hujan yang memberi harapan baru bagi para penghuninya.
 
"Kedatangan Kepala Negara membuka kesempatan bagi kami untuk meminta program kampung deret dilanjutkan. Saat ini, kami butuh penataan untuk 25 rumah sebagai bagian dari kampung deret," ujar Nurhayati, Ketua RT 013, Tanah Tinggi, Rabu, 22 Mei 2019.
 
Baca: Jokowi-Ma'ruf Beri Sambutan Kemenangan di Kampung Deret

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah penataan dilakukan pada 2014 silam, saat Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta, tidak ada sentuhan lagi di wilayah ini. Basuki Tjahaja Purnama yang melanjutkan posisi Jokowi memilih menghentikan program itu. Adapun Gubernur Anies Baswedan yang memimpin sejak 2017 dan berjanji akan melanjutkan program kampung deret, ternyata belum berbuat apa-apa.
 
Alhasil, kondisi kampung deret Tanah Tinggi bukan menjadi lebih baik. Bahkan, sejumlah warga cenderung menilainya mulai kumuh.
 
Saat ini di kampung deret itu diisi rumah permanen dan semipermanen. Rumah semipermanen dibangun warga secara mandiri sehingga cenderung tidak beraturan.
 
Ukuran rumah di Tanah Tinggi juga bervariasi. Dari yang terkecil 1,8 x 5 meter hingga yang terbesar 3 x 7 meter, dengan rata-rata bangunan berdiri di atas 2 atau 3 lantai.
 
Atas permintaan warga, Jokowi berjanji akan membangun 25 rumah sebagai bagian dari kampung deret. Waktunya, dimulai pada Juli dan selesai September. "Jokowi masih mengingat kami. Tidak hanya datang dan pidato syukuran, Presiden lagi-lagi tidak membiarkan lingkungan kami jadi kumuh lagi," ungkap Fathurahman, 54, warga.
 
Selain Tanah Tinggi, pada masa pemerintahannya di DKI, Jokowi juga membangun kampung deret di Petogogan, Kebayoran Baru; Cilincing, Koja, dan Cipinang Besar Selatan, Jatinegara. Dalam program yang digulirkan sejak 2012 itu rencananya hendak dibangun 350 kampung deret.
 
Bagai sulapan, rumah bedeng yang kumuh berganti bangunan permanen minimalis. Makin keren karena pembangunan kampung deret itu diikuti sentuhan atap khas Betawi pada semua rumah.
 
Saat itu, Jokowi tidak hanya ingin menghilangkan perkampungan kumuh. Ia juga menginginkan kampung deret bisa menjadi tujuan wisata. Karena itu, ia membangun kampung-kampung itu dengan 10 konsep atau tema, dari Kampung Protein di Tegalparang hingga Kampung Ikan di Penjaringan dan Kampung Backpacker di Kebon Sirih.
 
Namun, rencana itu tidak berlanjut. Ahok yang melanjutkan kepemimpinan Jokowi terpaksa menghentikan program itu. Alasannya, rumah-rumah di kampung kumuh itu ternyata berdiri di lahan hijau milik negara.
 
Anies yang melihat program tersebut bagus, juga mengangkatnya sebagai unggulan dalam kampanyenya. Namun, seusai dilantik, mata Anies ternyata belum melirik kampung deret. (Iam/J-3).
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif