Jakarta: PT Jakarta Propertindo masih mencari dana untuk membangun fasilitas pengolahan sampah terpadu atau Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter. Setidaknya, PT Jakpro harus mendapat dana sebesar USD250 juta atau setara dengan Rp3,6 triliun.
Namun, PT Jakpro belum juga mengantongi uang. Sedangkan, pembangunan ini tidak dianggarkan di APBD 2019.
Direktur Utama PT Jakpro, Dwi Wahyu Daryoto mengatakan, saat ini pihaknya masih mencari pinjaman untuk mendanai pembangunan ITF Sunter. Salah satu yang disasar ialah mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia (World Bank).
“Kalau pembiayaannya, kita lagi menjajaki untuk mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia. Jadi sangat sedikit anggaran yang berasal dari APBD untuk mendanai ITF Sunter,” kata Dwi di ITF Sunter, Jakarta Utara, Kamis, 20 Desember 2018.
Saat ditanya terkait pengembalian pinjaman, Dwi belum mau bicara. Sebab, belum ada lembaga yang menyatakan siap mendanai pembangunan ITF Sunter.
“Banyak skenario yang akan kita pikirkan. Bila perlu nanti siapa tahu lembaga pembiayaan tersebut akan dimasukkan dalam organisasi joint venture sebagai investor,” terangnya.
Baca: Anies Mau ITF Sunter Dikebut, tapi Tidak Asal-asalan
Sementara untuk besaran tipping fee atau uang kompensasi membuang sampah masih dalam tahap pengkajian. Dwi menargetkan pembahasan itu selesai di awal tahun 2019.
“Sekarang lagi dikaji sama konsultan internasional tentang tipping fee-nya. Dan itu akan diajukan raperdanya pada tahun 2019,” ujar dia.
Pagi tadi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meletakkan batu pertama di ITF Sunter sebagai tanda pembangunan dimulai. Dia pun menargetkan ITF Sunter selesai dalam dua tahun ke depan.
Jakarta: PT Jakarta Propertindo masih mencari dana untuk membangun fasilitas pengolahan sampah terpadu atau Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter. Setidaknya, PT Jakpro harus mendapat dana sebesar USD250 juta atau setara dengan Rp3,6 triliun.
Namun, PT Jakpro belum juga mengantongi uang. Sedangkan, pembangunan ini tidak dianggarkan di APBD 2019.
Direktur Utama PT Jakpro, Dwi Wahyu Daryoto mengatakan, saat ini pihaknya masih mencari pinjaman untuk mendanai pembangunan ITF Sunter. Salah satu yang disasar ialah mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia (World Bank).
“Kalau pembiayaannya, kita lagi menjajaki untuk mendapatkan pinjaman dari Bank Dunia. Jadi sangat sedikit anggaran yang berasal dari APBD untuk mendanai ITF Sunter,” kata Dwi di ITF Sunter, Jakarta Utara, Kamis, 20 Desember 2018.
Saat ditanya terkait pengembalian pinjaman, Dwi belum mau bicara. Sebab, belum ada lembaga yang menyatakan siap mendanai pembangunan ITF Sunter.
“Banyak skenario yang akan kita pikirkan. Bila perlu nanti siapa tahu lembaga pembiayaan tersebut akan dimasukkan dalam organisasi joint venture sebagai investor,” terangnya.
Baca: Anies Mau ITF Sunter Dikebut, tapi Tidak Asal-asalan
Sementara untuk besaran tipping fee atau uang kompensasi membuang sampah masih dalam tahap pengkajian. Dwi menargetkan pembahasan itu selesai di awal tahun 2019.
“Sekarang lagi dikaji sama konsultan internasional tentang tipping fee-nya. Dan itu akan diajukan raperdanya pada tahun 2019,” ujar dia.
Pagi tadi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meletakkan batu pertama di ITF Sunter sebagai tanda pembangunan dimulai. Dia pun menargetkan ITF Sunter selesai dalam dua tahun ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)