medcom.id, Jakarta: Menelusuri Museum Prasasti seperti berada di ratusan tahun silam. Setiap jengkal batu nisan menyimpan narasi panjang para tokoh, dan kemajuan Kota Jakarta.
Yang paling melegenda kisah kematian Pieter Erberveld. Di sebuah tembok tua bercat putih kusam terdapat tulisan kuno berbunyi:
"Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan atas dihukumnya sang pengkhianat Pieter Elberveld. Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya. Batavia, 14 April 1722."
Di atas sebidang tembok itu terpancang sebuah tengkorak yang menghadap ke langit. Pieter dibunuh dengan sadis. Pria keturunan Jerman ini dieksekusi mati, lantaran dituduh memimpin konspirasi untuk membunuh anggota VOC.
Baca: Selamat Ulang Tahun Jakarta
Cerita lain mengatakan, kematian Pieter dikarenakan unsur politik. Ayah Pieter, Peter Elberfeld merupakan juragan tanah yang hendak membeli seluruh tanah di Batavia. "Khawatir Belanda terusir maka muncullah skenario pembunuhan itu," cerita Yudi di Museum Prasasti, Jakarta Pusat, Kamis 29 Juni 2017.
Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Berjalan lebih jauh, warga akan menemukan makam Rimsdijk. Dia adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda paling kaya.
Baca: Monas, Riwayat Mu Dulu
Kediamannya di Tanjung Timur menjadi rumah paling mentereng se-Batavia. Ia juga dikenal sebagai tuan tanah.
Sejumlah turis mancanegara mengunjungi Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Salah satu lahan miliknya berada di kawasan Tanah Abang yang telah dihibahkan sebagai kawasan pemakaman. Sekarang dikenal sebagai Museum Prasasti.
Baca: Jakarta, Soekarno dan Nasib Bemo
Awalnya, museum ini digunakan sebagai pemakaman khusus orang asing di Batavia. Pemakaman yang terletak di Kebon Jahe Kober ini kemudian berkembang menjadi pemakaman yang prestisius.
Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Banyak orang terkenal, pejabat penting, dan pelaku sejarah dikuburkan di sana. Hingga akhirnya pada 9 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Prasasti.
Jadi Tempat Wisata Sejarah
Menjelajah makam kuno ternyata memberikan pengalaman wisata sekaligus memperkaya sejarah masa lampau. Cerita-cerita di balik batu nisan mampu memikat para pengunjung.
Tak hanya pengunjung dari dalam negeri, turis mancanegara pun tak pernah absen. Seperti yang dilakukan Kelly dan Lucero.
Kelly, warga Brasil ini tampak antusias mendengarkan cerita para tokoh terdahulu. Dia pun kegirangan saat melihat replika peti Presiden pertama RI Soekarno.
"Saya sangat menyukainya. Saya membaca sejarah tentang dia. Dia tokoh yang sudah membangun kota paling penting ini," pungkas Kelly.
Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Museum Prasasti bisa menjadi salah satu destinasi warga Jakarta. Warga hanya perlu membayar tiket Rp5 ribu per orang. Museum yang berada di belakang kantor Wali Kota Jakarta Pusat ini buka setiap Selasa hingga Minggu.
medcom.id, Jakarta: Menelusuri Museum Prasasti seperti berada di ratusan tahun silam. Setiap jengkal batu nisan menyimpan narasi panjang para tokoh, dan kemajuan Kota Jakarta.
Yang paling melegenda kisah kematian Pieter Erberveld. Di sebuah tembok tua bercat putih kusam terdapat tulisan kuno berbunyi:
"Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan atas dihukumnya sang pengkhianat Pieter Elberveld. Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya. Batavia, 14 April 1722."
Di atas sebidang tembok itu terpancang sebuah tengkorak yang menghadap ke langit. Pieter dibunuh dengan sadis. Pria keturunan Jerman ini dieksekusi mati, lantaran dituduh memimpin konspirasi untuk membunuh anggota VOC.
Baca: Selamat Ulang Tahun Jakarta
Cerita lain mengatakan, kematian Pieter dikarenakan unsur politik. Ayah Pieter, Peter Elberfeld merupakan juragan tanah yang hendak membeli seluruh tanah di Batavia.
"Khawatir Belanda terusir maka muncullah skenario pembunuhan itu," cerita Yudi di Museum Prasasti, Jakarta Pusat, Kamis 29 Juni 2017.

Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Berjalan lebih jauh, warga akan menemukan makam Rimsdijk. Dia adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda paling kaya.
Baca: Monas, Riwayat Mu Dulu
Kediamannya di Tanjung Timur menjadi rumah paling mentereng se-Batavia. Ia juga dikenal sebagai tuan tanah.

Sejumlah turis mancanegara mengunjungi Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Salah satu lahan miliknya berada di kawasan Tanah Abang yang telah dihibahkan sebagai kawasan pemakaman. Sekarang dikenal sebagai Museum Prasasti.
Baca: Jakarta, Soekarno dan Nasib Bemo
Awalnya, museum ini digunakan sebagai pemakaman khusus orang asing di Batavia. Pemakaman yang terletak di Kebon Jahe Kober ini kemudian berkembang menjadi pemakaman yang prestisius.
Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Banyak orang terkenal, pejabat penting, dan pelaku sejarah dikuburkan di sana. Hingga akhirnya pada 9 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Prasasti.
Jadi Tempat Wisata Sejarah
Menjelajah makam kuno ternyata memberikan pengalaman wisata sekaligus memperkaya sejarah masa lampau. Cerita-cerita di balik batu nisan mampu memikat para pengunjung.
Tak hanya pengunjung dari dalam negeri, turis mancanegara pun tak pernah absen. Seperti yang dilakukan Kelly dan Lucero.
Kelly, warga Brasil ini tampak antusias mendengarkan cerita para tokoh terdahulu. Dia pun kegirangan saat melihat replika peti Presiden pertama RI Soekarno.
"Saya sangat menyukainya. Saya membaca sejarah tentang dia. Dia tokoh yang sudah membangun kota paling penting ini," pungkas Kelly.
Museum Prasasti, Jakarta Pusat.--Metrotvnews.com--Nur Azizah
Museum Prasasti bisa menjadi salah satu destinasi warga Jakarta. Warga hanya perlu membayar tiket Rp5 ribu per orang. Museum yang berada di belakang kantor Wali Kota Jakarta Pusat ini buka setiap Selasa hingga Minggu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)