Rancangan revitalisasi TIM. Foto: Istimewa
Rancangan revitalisasi TIM. Foto: Istimewa

Revitalisasi TIM di Tengah Nafsu Bisnis dan Gairah Seni

Nasional transisi taman ismail marzuki
Kautsar Widya Prabowo • 30 November 2019 10:45
Jakarta: Revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat, menimbulkan perdebatan panas antara seniman dan jajaran di DKI Jakarta. Rencana PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menyisipkan hotel di dalam Wisma TIM menjadi biang perkaranya.
 
Seniman Arie F Batubara mengatakan kehadiran hotel dengan 200 kamar itu dikhawatirkan menghilangkan tujuan awal dari peremajaan Kompleks TIM sebagai pusat seni, bukan lokasi bisnis. Dia ingin muruah TIM tak diganggu gugat.
 
"Kalau dia art center, dia sebagai laboratorium melahirkan karya seni dan seniman terbaik. Sebagai etalase, dia menjadi tempat penampilan karya seni terbaik secara mutu," kata Arie kepada Medcom.id di Jakarta, Jumat, 30 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arie kesal dengan keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menunjuk Jakpro sebagai pelaksana kegiatan revitalisasi TIM. Meski bertitel badan usaha milik daerah (BUMD), Jakpro dinilai menerapkan sistem untung-rugi.
 
"Bangunan yang dibangun oleh Jakpro sesuai dengan penyertaan modal daerah (PMD) itu nanti milik Jakpro. Konsekuensinya dia berhak untuk mengelola itu (TIM)," tutur dia.
 
Menurut dia, sistem semacam ini membuat seniman yang menggunakan fasilitas di bekas lahan Taman Raden Saleh itu, akan dikomersialkan. Bila peristiwa itu terjadi, esensi TIM sebagai pusat seni pupus sudah.
 
Pengamat teater itu menyarankan Pemprov DKI membuat badan nonstruktural dalam menggarap revitalisasi TIM. Badan itu nantinya berjalan menggunakan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD).
 
"(Harusnya) dengan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) saja, dengan dibiayai oleh pemerintah," jelas dia.
 
Setali tiga uang, seniman Budi Iriyanto mengatakan TIM bukanlah kawasan komersial. Para seniman tak membutuhkan hotel bintang lima.
 
"Ini art center bukan business center," jelas Budi saat ditemui di TIM, Rabu, 27 November 2019.
 
Para seniman TIM, kata dia, hanya memerlukan bangunan khusus seniman seperti laboratorium kesenian. Tempat itu bakal berguna untuk proses pembentukan kreativitas, aktivitas seniman, hingga tempat berdiskusi.
 
Pelaksana tugas (plt) Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Danton Sihombing meminta PT Jakpro menyosialisasikan secara spesifik proyek revitalisasi TIM, terutama soal hotel bintang lima. Seniman harus diyakinkan revitalisasi tak menganggu kerja kesenian.
 
"Jakpro itu sudah jelas bahwa dia hanya mengelola wilayah sarana dan prasarana. Dia tidak akan mencampuri kerja-kerja kesenian. Makanya saya sarankan ke Jakpro berikan penjelasan yang sejelas-jelasnya ke publik," tutur Danton.
 
Sementara itu, Corporate Secretary JakPro Hani Sumarno mencoba mengelak ketika ditanya ihwal pemberhentian pembangunan hotel di Wisma TIM. Ia berdalih saat ini Jakpro masih berada ditahap perencanaan.
 
"Membangunnya juga belum. (Soal pembangunan hotel disetop) disimpulkan saja sendiri," tutur Hani saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.
 
Hani enggan ditanyai lebih jauh soal keberlanjutan revitalisasi TIM, terutama soal hotel. Ia justru mengajak membahas proyek Jakpro lainya.
 
"Yang lain sudah move on loh, sudah bahas Stadion (Jakarta Internasional Stadion), ada yang bahas ducting (proyek saluran bawah tanah)," kelak dia.
 
Dia mengeklaim sudah mendekati pihak-pihak terkait, terutama seniman. Jakpro memastikan tidak akan menyelenggarakan peletakan batu pertama revitalisasi TIM, pada Rabu, 3 Juli 2019, jika belum ada sosialisasi.
 
"Tahapan hingga groundbreaking adalah sosialisasi dan semua berjalan baik. Lancar," tutur dia.
 
Peliknya revitalisasi TIM terdengar hingga ke kuping anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta. Alhasil, pertemuan anggota Dewan dan Jakpro digelar pada Jumat, 30 November 2019.
 
Dalam pertemuan itu, Direktur Utama PT Jakpro Dwi Wahyu Daryoto berjanji menyempurnakan desain Wisma TIM. Desain terbaru tidak lagi meletakkan hotel di Wisma TIM.
 
"Saya akan selesaikan revisi desain dengan Pak Andra Matin (arsitek revitalisasi TIM) termasuk revisi business plan-nya dan bujetnya karena berubah daripada kita mengawang-mengawang gitu," kata Dwi di ruang rapat Komisi B DPRD DKI Jakarta.
 
Dwi berjanji perbaikan desain tak memakan waktu lama. Ia akan mempresentasikan hasil revisi itu saat anggota DPRD DKI mengunjungi kawasan TIM dalam dua minggu ini.
 
Menurut dia, jika seniman tidak menginginkan keberadaan Jakpro, pihaknya siap tak melanjutkan revitalisasi TIM. Dia ikhlas melepas modal Rp200 miliar yang diberikan DKI untuk memermak TIM.
 
"Saya kasih (PMD) ke yang mau menggantikan," kata Dwi.
 
Namun, Sekretaris Komisi B Pandopotan Sinaga menegaskan PT Jakpro tidak dapat membatalkan proyek tersebut. Jakpro harus mempertanggungjawabkan dana yang diberikan Pemprov.
 
"Ini kan aset pemerintah daerah. Rp1 uang keluar harus ada tanggung jawab itu yang terjadi," tegas dia.
 
Sementara itu, Gubernur Anies Baswedan meminta masyarakat menyamakan persepsi terhadap revitalisasi TIM. Pemprov DKI, kata dia, berkomitmen menyulap TIM menjadi pusat kebudayaan dunia.
 
"Sehingga pelaku seni kita itu juga ketemu dengan (seniman) kelas dunia. Nah, kita jangan jago kandang terus," kata Anies.
 
Anies menjelaskan fungsi penginapan dalam Wisma TIM untuk seniman mancanegara yang ingin beristirahat. Dia tak mau seniman tamu dari luar harus tidur di luar TIM.
 
"Selama 24 jam dia di situ," tutur dia.
 


 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif