medcom.id, Jakarta: Polda Metro Jaya menyangkal jika pendukung Persija Jakarta, Fahreza, tewas karena dianiaya polisi. Belakangan, diketahui jika keluarga korban sempat membuat laporan bahwa Fahreza merupakan korban kecelakaan.
Namun, pernyataan itu ternyata juga diragukan kebenarannya. "Keterangan dari kakak korban, bahwasanya ini (laporan jika Fahreza kecelakaan) dibuat dengan maksud ingin mendapatkan asuransi Jasa Raharja. Karena proses itu harus melalui laporan polisi, keluarga almarhum tidak mengurusnya. Itulah yang kita temukan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/5/2016).
Menurut Awi, penyebab kematian Fahreza masih belum bisa dipastikan. Sebab, keluarga tidak mengijinkan jika jenazah Fahreza diautopsi.
"Luka yang diderita korban belum diketahui penyebabnya. Dalam penyelidikan kita kesulitan karena keluarga tidak mau dilakukan visum maupun autopsi, sehingga menghambat proses penyelidikan," ungkap Awi.
(Baca: Pendukung Persija Meninggal karena Kecelakaan)
Awi pun menjelaskan kronologis saat Fahreza ditemukan di dekat pintu dua Stadion Utama Glora Bung Karno. Saat itu, petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta melihat seorang suporter yang menggunakan kaos warna oranye tergeletak.
"Dari CCTV kelihatan, dia sempoyongan sampai terjatuh di dekat pintu dua itu. Di CCTV tidak terlihat kerusuhannya," sambung Awi.
Kemudian petugas melakukan petolongan pertama bersama polisi dan suporter lainnya. "Ini bisa kalian catat ya, jadi tidak ada rangkaian adegan yang katanya polisi memukul. Itu tidak ada kita temukan. Malah polisi ikut membantu membawa korban masuk ke mobil ambulance," beber Awi.
Suporter klub Persija Jakarta Jakmania -- MI/Immanuel Antonus
Saat ditemukan, lanjut Awi, Fahreza mengalami luka di bibir bagian tengah, atas, dan di bawah hidung. Ada juga benjol di kepala bagian atas, luka gores pipi kiri, dan luka baret tangan kiri.
"Oleh petugas kesehatan, korban dibawa ke pintu dua. Itu dekat posko kita. Di situ berkumpul ambulance. Di dalam ambulance, ditanyakan identitas korban. Kemudian dihubungi kakak dan temannya yang ikut nonton. Petugas juga menawarkan mau membawa korban ke rumah sakit, namun ditolak dengan alasan menunggu kakaknya," jelas Awi.
Setelah 30 menit, datang lima orang ke ambulance. Mereka mangaku teman dan kakak Fahreza.
"Selanjutnya Fahreza dibawa pulang oleh kakak sekira pukul 00.30 WIB," kata Awi.
(Baca: Fahreza Janji 'Temani' Persija di GBK Terakhir Kali)
Pada Jumat (13/52016), disebut ada kerusuhan di Gelora Bung Karno, Senayan, saat berlangsung pertandingan Persija Jakarta vs Persela Lamongan. Dalam insiden tersebut, Fahreza mengalami luka di bagian kepala, pinggang, dan paha.
Fahreza sempat dibawa ke Rumah Sakit Andika, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Zahira. Fahreza menjalani perawatan intensif selama dua hari di Rumah Sakit Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir, Minggu (15/5/2016) pagi.
medcom.id, Jakarta: Polda Metro Jaya menyangkal jika pendukung Persija Jakarta, Fahreza, tewas karena dianiaya polisi. Belakangan, diketahui jika keluarga korban sempat membuat laporan bahwa Fahreza merupakan korban kecelakaan.
Namun, pernyataan itu ternyata juga diragukan kebenarannya. "Keterangan dari kakak korban, bahwasanya ini (laporan jika Fahreza kecelakaan) dibuat dengan maksud ingin mendapatkan asuransi Jasa Raharja. Karena proses itu harus melalui laporan polisi, keluarga almarhum tidak mengurusnya. Itulah yang kita temukan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/5/2016).
Menurut Awi, penyebab kematian Fahreza masih belum bisa dipastikan. Sebab, keluarga tidak mengijinkan jika jenazah Fahreza diautopsi.
"Luka yang diderita korban belum diketahui penyebabnya. Dalam penyelidikan kita kesulitan karena keluarga tidak mau dilakukan visum maupun autopsi, sehingga menghambat proses penyelidikan," ungkap Awi.
(Baca: Pendukung Persija Meninggal karena Kecelakaan)
Awi pun menjelaskan kronologis saat Fahreza ditemukan di dekat pintu dua Stadion Utama Glora Bung Karno. Saat itu, petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta melihat seorang suporter yang menggunakan kaos warna oranye tergeletak.
"Dari CCTV kelihatan, dia sempoyongan sampai terjatuh di dekat pintu dua itu. Di CCTV tidak terlihat kerusuhannya," sambung Awi.
Kemudian petugas melakukan petolongan pertama bersama polisi dan suporter lainnya. "Ini bisa kalian catat ya, jadi tidak ada rangkaian adegan yang katanya polisi memukul. Itu tidak ada kita temukan. Malah polisi ikut membantu membawa korban masuk ke mobil
ambulance," beber Awi.
Suporter klub Persija Jakarta Jakmania -- MI/Immanuel Antonus
Saat ditemukan, lanjut Awi, Fahreza mengalami luka di bibir bagian tengah, atas, dan di bawah hidung. Ada juga benjol di kepala bagian atas, luka gores pipi kiri, dan luka baret tangan kiri.
"Oleh petugas kesehatan, korban dibawa ke pintu dua. Itu dekat posko kita. Di situ berkumpul
ambulance. Di dalam
ambulance, ditanyakan identitas korban. Kemudian dihubungi kakak dan temannya yang ikut nonton. Petugas juga menawarkan mau membawa korban ke rumah sakit, namun ditolak dengan alasan menunggu kakaknya," jelas Awi.
Setelah 30 menit, datang lima orang ke
ambulance. Mereka mangaku teman dan kakak Fahreza.
"Selanjutnya Fahreza dibawa pulang oleh kakak sekira pukul 00.30 WIB," kata Awi.
(Baca: Fahreza Janji 'Temani' Persija di GBK Terakhir Kali)
Pada Jumat (13/52016), disebut ada kerusuhan di Gelora Bung Karno, Senayan, saat berlangsung pertandingan Persija Jakarta vs Persela Lamongan. Dalam insiden tersebut, Fahreza mengalami luka di bagian kepala, pinggang, dan paha.
Fahreza sempat dibawa ke Rumah Sakit Andika, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Zahira. Fahreza menjalani perawatan intensif selama dua hari di Rumah Sakit Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir, Minggu (15/5/2016) pagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NIN)