Pemprov Harus Bikin Program Pemanfaatan Kolong Tol Wiyoto-Wiyono

Sunnaholomi Halakrispen 27 April 2018 18:53 WIB
penggusuran luar batang
Pemprov Harus Bikin Program Pemanfaatan Kolong Tol Wiyoto-Wiyono
Pemukiman di kolong tol Wiyoto-Wiyono - Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.
Jakarta: Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, meyakini permasalahan pemukiman liar di kolong Tol Wiyoto-Wiyono dapat teratasi. Salah satu solusinya, ialah memanfaatkan kolong tol.

"Orang tinggal di sini sebenarnya tidak layak. Pemanfaatannya bisa disesuaikan dengan CSR Jasa Marga dan akan baik apabila kolong tol dimanfaatkan untuk taman atau apa," ujar Yayat kepada Medcom.id, Jumat, 27 April 2018.

Yayat memaparkan, kolong Tol Wiyoto-Wiyono sebaiknya dijadikan ruang terbuka. Fasilitas ruang terbuka tersebut sifatnya tidak permanen atau hanya dalam waktu tertentu. 


"Contohnya tempat parkir juga bisa kan seperti kolong tol depan kampus Trisakti atau ruang bermain, ruang interaksi untuk kepentingan masyarakat. Atau bisa dibuat seperti kolong kereta api di Gondangdia yang dijadikan RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Analk," tutur dia. 


Pemukiman di kolong tol Wiyoto-Wiyono - Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.  

(Baca juga: Sandiaga tak Masalah Tanah Negara Dibangun Hunian)

Meski begitu, kata Yayat, pemakaian ruang terbuka tersebut harus dikoordinasikan dan jelas pemanfaatannya. Sehingga, nantinya tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu.

"Kita harap pengawasan dan konsep penataannya harus dikerjasamakan antara pemrov, Jasa Marga, dan dinas terkait. Diperhatikan juga pemanfaatannya, jangan sampai ada penyalahgunaan," imbuh dia. 

Selanjutnya, bila telah ditetapkan pemanfaatan kolong tol, maka harus disediakan tempat penampungan bagi 300 warga yang kini tinggal di kolong Tol Wiyoto-Wiyono. Tidak berhenti sampai di situ, pengadaan penampungan harus diiringi dengan program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). 

Yayat menjelaskan, program UMKM bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, seperti menjadi petugas parkir, ojek, tenaga lapangan, atau mengembangkan ekonomi kreatif. Sehingga, nantinya masyarakat mampu membayar biaya sewa rumah murah yang disediakan.

"Harus disediakan shelter penampungan sementara untuk direlokasi atau tata ulang. Bisa ditempatkan di rumah susun atau rumah-rumah sosial seperti Buddha Tzu Chi yang di Tangerang. Itu menarik, pemulung tempat sampah dikasih tempat tinggal tapi tetap mengelola sampah," pungkas dia. 

(Baca juga: Sandi Mengakui Pemprov Lalai di Kolong Tol)





(REN)