Di Balik Upah Murah Buruh Sawit Indonesia
Sekjen Buruh Perkebunan Indonesia (SERBUNDO) Natal Sidabutar. Foto: Desi Angriani, /Medcom.id
Jakarta: Koalisi Buruh Sawit menemukan praktik upah murah masih terjadi di sektor perkebunan kelapa sawit. Buruh mendapat upah harian lebih rendah, bahkan tidak digaji berdasarkan perhitungan Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan Upah Minimum Sektoral Perkebunan (UMSP).

"Sampai sekarang masih banyak ditemukan wilayah di mana tidak ada UMK dan UMSK," ungkap Sekjen Buruh Perkebunan Indonesia (SERBUNDO) Natal Sidabutar dalam jumpa pers di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta, Minggu, 29 April 2018.

Natal mencontohkan di Kalimantan Tengah. Upah harian buruh sawit di sana berkisar Rp59.400 atau lebih kecil dari UMK yakni sebesar Rp84.116. Hal serupa terjadi di Sumatera Utara. Upah harian buruh sawit hanya Rp78.600, sedangkan UMK-nya Rp80.480. Selanjutnya di Papua, UMK harian buruh sawit Rp96.672 tapi hanya dibayar Rp61.295.


"Kalau upah di industri manufaktur dengan perhitungan jumlah kalori 3.000 kilogram kalori per hari, sementara buruh perkebunan hanya berjalan di lima hektare perkebunan sudah lebih dari 3.000 kilogram," ungkap dia.

Selain itu, kata Natal, perkebunan memberikan target yang tinggi sebanyak 1.200-1.500 kilogram per hari tanpa memberlakukan lembur. Buruh terpaksa bekerja melebihi batasan waktu 12 jam per hari agar tak mendapat sanksi.

Baca: Buruh Sawit Desak Pemerintah Rumuskan Aturan Khusus

Untuk memenuhi target, lanjut dia, buruh sawit rela membayar tukang berondol atau mengajak anak dan istrinya ke perkebunan. Status kerja kernet atau tukang berondol tidak diakui karena direkrut dan diupah oleh buruh panen.

"Idealnya, 900 kilogram sehari jadi pekerja enggak perlu bawa anak dan istri atau bayar kernet. Belum lagi persoalan denda atau sanksi," imbuhnya.

Pihaknya juga menemukan di Sumatera dan Kalimantan, seorang buruh permanen ditargetkan mengumpulkan 2-3 ton buah sawit per hari. Artinya, satu orang permanen mengumpulkan 140 sampai 160 janjang/tandan buah sawit. "Hampir semua memberlakukan seperti praktik," pungkas dia.

Perwakilan LSM Sawit Watch Zidane mengatakan 70 persen dari total 10 juta buruh sawit merupakan pekerja harian lepas. Mereka dibayar dengan upah yang tidak layak.

Perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja bagi  buruh perempuan dan pekerja anak juga dinilai sangat minim. "Keberadaan buruh sawit sangat diabaikan, untuk membeli alat semprot diserahkan kepada pekerja dan banyak perempuan terabaikan akan paparan zat kimia," beber dia.



(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id