Ilustrasi--Suasana gedung bertingkat terlihat samar oleh selimut kabut dan asap polusi di Jakarta Selatan. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)
Ilustrasi--Suasana gedung bertingkat terlihat samar oleh selimut kabut dan asap polusi di Jakarta Selatan. (Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan)

Greenpeace: Polusi Udara Jakarta Bukan Akibat Kemarau

Nasional polusi udara
Candra Yuri Nuralam • 04 Juli 2019 07:56
Jakarta: Pengamat Lingkungan Hidup Greenpeace Indonesia Bondan Andrimayu tidak setuju permasalahan polusi di Jakarta dikaitkan dengan musim kemarau. Pencemaran udara di ibu kota lantaran dominasi penggunaan kendaraan pribadi.
 
"(Polusi udara) justru karena peningkatan moda transportasi. Dari 46% (2012) ke 70% (2019) kalau kita lihat dari data emision inventory," ujar Bondan kepada Medcom.id, Kamis, 4 Juli 2019.
 
Bondan mengatakan berdasarkan data emision inventory pada 2012, polusi akibat kendaraan berada di angka 48 persen. Di sisi lain, sektor industri dan limbah domestik juga berkontribusi sebagai polutan masing-masing 28% dan 17% termasuk dari pembakaran sampah sebesar lima persen dan debu jalanan empat persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia memerinci pada moda transportasi menghasilkan emisi 20 ribu ton pada 2012. Saat ini, kecenderungannya meningkat dan berada hampir di angka 40 ribu ton. Sedangkan tudingan kemarau memperparah polusi hanyalah alibi tanpa dasar.
 
"Apa pun itu jawaban DKI dan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) artinya ini masyarakat menghirup udara yang tidak sehat. Apa harus di biarkan?" ujar dia
 
Baca juga:Kemarau Memperparah Polusi Udara Jakarta
 
Pemprov DKI sebelumnya menyebut musim kemarau berkontribusi terhadap buruknya kualitas udara di Jakarta. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andono mengatakan partikel debu naik atmosfer saat musim kemarau.
 
"Sekarang ini lagi el Nino. Prediksinya sampai tiga bulan ke depan akan panas terus enggak ada hujan. Kalau panas partikel yang dihasilkan aktivitas di kota akan menutup dan membentuk lapisan di atmosfer," kata Andono, Rabu, 3 Juli 2019.
 
Kemudian, partikel tersebut terakumulasi dan memperparah pencemaran udara di ibu kota. Andono menyebut kemarau akan menimbulkan efek inversi di atmosfer.
 
"Beda kalau hujan lapisan ini terbuka, kayak dicuci kotorannya. Kayak baju kalau kena air kan kotorannya bisa hilang. Kalau kotoran di udara kena hujan juga menjadi lebih bersih," ungkap dia.
 
Andono meminta warga mengurangi asap dari kendaraan bermotor. Dia mengajak warga menggunakan transportasi massal saat berpergian.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif