Ilustrasi--Warga mengantre air bersih yang dialirkan dari mobil tangki. (Foto: MI/Panca Syurkani)
Ilustrasi--Warga mengantre air bersih yang dialirkan dari mobil tangki. (Foto: MI/Panca Syurkani)

26 Mobil Tangki Air Siaga Atasi Kemarau DKI Jakarta

Nasional pemprov dki krisis air bersih
Nur Azizah • 09 Juli 2019 13:55
Jakarta: PAM Jaya menyatakan ketersediaan air bersih untuk wilayah Jakarta aman hingga musim kemarau berakhir. Kendati begitu, PAM Jaya tetap mengantisipasi terjadinya kekeringan.
 
Manajer Humas PAM Jaya Linda Nurhandayani mengatakan pihaknya telah menyiagakan 26 mobil tangki air untuk daerah yang mengalami kekeringan parah. Rinciannya, lima tangki milik PAM Jaya, enam tangki milik Aetra dan 15 tangki milik Palyja.
 
"Mobil tangki itu untuk keadaan darurat," kata Linda, di Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk mengantisipasi kemarau panjang, PAM Jaya menambah cakupan layanan khususnya di daerah-daerah yang belum terjangkau air perpipaan. PAM Jaya juga tengah membangun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Hutan Kota.
 
"SPAM Hutan Kota yang akan mengaliri sebagian wilayah di Jakarta Utara dan Barat," ungkapnya.
 
Baca juga:Bendungan di Kali Ciliwung Solusi Kekeringan Depok
 
Selain itu, PAM Jaya tengah mencari sumber air baku lainnya seperti Kali Mookevart dan Kali Pesanggrahan. Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah DKI Jakarta akan berlangsung pada September 2019. Warga Ibu Kota diminta bersiap menghadapi kekeringan.
 
"Kemarau di DKI Jakarta baru berjalan dua bulan (Mei-Juni), masih harus menyelesaikan sampai puncaknya di September," kata Kepala Staf Sub Bidang Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat, Adi Ripaldi seperti dikutip Antara, Kamis, 4 Juli 2019.
 
Meski kemarau baru berjalan dua bulan, namun dilaporkan sudah ada wilayah yang kesulitan air. Ia meminta pemerintah daerah waspada dengan melakukan upaya antisipasi kekeringan.
 
Ripaldi mengatakan, saat ini sudah ada wilayah di DKI Jakarta yang berstatus siaga kekeringan, terutama di Jakarta Utara. Berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH), dua wilayah di Jakarta Utara sudah masuk HTH sangat panjang yakni 30 sampai 61 hari.
 
Baca juga:Air Bersih di Jatipulo Hanya Mengalir Tengah Malam
 
"HTH di wilayah Jakarta sudah lebih 30-61 hari terjadi di Rawa Badak dan Rorotan," ucap Ripaldi.
 
BMKG melakukan pengawasan HTH setiap hari untuk seluruh wilayah DKI Jakarta dengan menggunakan 6.607 alat penakar hujan yang tersebar di setiap kecamatan. Selain dua wilayah itu yang dikategorikan HTH sangat panjang, beberapa wilayah lain juga sudah masuk kriteria HTH panjang yakni 21-30 hari.
 
Menghadapi kemarau 2019 ini, BMKG telah memberikan peringatan dini serta melaporkan informasi cuaca kepada instansi terkait.
"Antisipasi lebih dini, kemarau masih akan berlangsung sampai September-Oktober," ujar dia.
 
Menurut Ripali, antisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah bijak dalam penggunaan air bersih, lebih hemat, dan cermat. Begitu pula untuk wilayah irigasi, dan tanaman serta kebutuhan air lainnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif