Penumpang menunggu antrean MRT. Foto: MI/Pius Erlangga
Penumpang menunggu antrean MRT. Foto: MI/Pius Erlangga

Pembangunan MRT Fase 2 Terancam Mundur

Nasional mrt Proyek MRT
Antara • 19 Oktober 2020 03:05
Jakarta: Direktur Utama PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta (Perseroda) William Sabandar mengungkapkan pembangunan fase 2 terancam mundur. Hal ini akibat beberapa kendala yang terjadi di pengerjaan paket kontrak CP202, CP205, dan CP206.
 
"Salah satu penyebabnya karena pandemi covid-19 yang tengah melanda sehingga menyebabkan risiko tinggi terhadap keseluruhan proyek MRT Jakarta fase 2,” ujar William dalam keterangan tertulis, Minggu, 18 Oktober 2020.
 
Menurut dia, kendala untuk CP202 pembangunan Stasiun Harmoni-Mangga Besar mengakibatkan proyek strategis nasional itu molor hingga pertengahan 2027. Kendala dari CP202 yakni peserta lelang (kontraktor) meminta waktu penyelesaian proyek lebih panjang karena selain covid-19, dalam evaluasi ditemukan risiko tinggi dalam konstruksi di lapangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kendala kedua ditemukan untuk proyek CP205 terkait perkeretapian dan rel. Peserta lelang meminta perpanjangan waktu karena adanya isu kebijakan penggunaan produk komunikasi tertentu yang tidak bisa disediakan kontraktor Jepang. Selain itu, peserta lelang melihat risiko interfacing (tumpang tindih) antarpekerjaan paket sipil dan paket sistem perkeretaapian.
 
Meski demikian, PT MRT Jakarta (Perseroda) memutuskan tanggal pemasukan penawaran CP205 pada Senin, 26 Oktober 2020. MRT Jakarta telah meminta konfirmasi kesediaan peserta lelang memasukkan penawaran pada tanggal itu. Sebagian peserta lelang telah memberikan konfirmasi untuk mengupayakan yang terbaik guna memasukkan penawaran pada 26 Oktober 2020.
 
Kendala terakhir ialah tidak ada ketertarikan dari kontraktor Jepang terlibat dalam proyek CP206. Sejatinya, proyek ini sudah seringkali dipromosikan kepada kontraktor-kontraktor Jepang.
 
"Kondisi seperti ini terjadi karena pembangunan MRT Fase 2 dibiayai oleh JICA ODA Loan dengan skema special terms for economic partnership (tied loan) sehingga sangat terikat dengan kriteria kontraktor utama harus berasal dari Jepang. Namun demikian, ternyata kontraktor Jepang terlalu konservatif dan tidak siap untuk mengambil resiko pembangunan di area fase 2,”ujar William.
 
Baca: Stasiun MRT Rusak Imbas Demo UU Ciptaker Rampung Diperbaiki
 
Untuk karena, itu William mengharapkan pemerintah Jepang melalui JICA dapat mendorong para kontraktor untuk sektor rolling stock terlibat dalam pembangunan MRT fase 2. Jika minat pelaku industri di Jepang kurang, dia berharap opsi melibatkan kontraktor internasional dari luar Jepang dapat dibuka dengan disetujui bersama antara pemerintah Indonesia dan Jepang,.
 
Sementara itu, pembangunan MRT Jakarta fase 2 sudah mulai dikerjakan lewat CP201. Pengadaan Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas sudah rampung 8,3 persen.

 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif