Ilustrasi Polri/Medcom.id
Ilustrasi Polri/Medcom.id

Polri Dinilai Perlu Melakukan Revolusi Mental

Siti Yona Hukmana • 08 Desember 2021 10:19
Jakarta: Polri dinilai perlu melakukan revolusi mental. Hal itu menyusul banyaknya pelanggaran anggota yang mencoreng citra Polri di mata masyarakat belakangan. 
 
"Selesaikan revolusi mental di tubuh Polri. Selama Polri tidak melakukan revolusi mental, kondisi ini akan terus terjadi," kata pengamat kepolisian Bambang Rukminto kepada Medcom.id, Rabu, 8 Desember 2021. 
 
Menurut dia, gaya hidup hedonis anggota masih jamak. Pungutan liar (pungli) di satuan-satuan juga menjamur, termasuk permainan penerapan pasal-pasal, arogansi serta pelecehan terhadap perempuan.

Bambang menyebut sejatinya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah mengeluarkan sejumlah aturan untuk mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran tersebut. Namun, tidak memberikan dampak positif bagi perbaikan kinerja organisasi. 
 
Baca: Viral Polri vs TNI Lagi, Polwan di Kalteng Diduga Dipukul saat Bertugas
 
"Kalau peraturan-peraturan tidak memberikan dampak pada perbaikan kinerja, artinya memang masih ada yang salah dalam implementasi revolusi mental di tubuh Polri," ungkapnya.
 
Bambang memandang survei kepercayaan masyarakat kepada Polri meningkat sampai 80 persen hanya akan menjadi pertanyaan menyangsikan. Hasil survei itu dianggap tidak mengurangi delik viral yang sudah terjadi, bahkan berpotensi terus berlangsung. 
 
"Perlu ditandaskan yang dibutuhkan kepolisian saat ini bukan hanya reformasi struktural atau kultural, tetapi revolusi mental dulu," ucap Bambang. 
 
Menurut dia, Polri perlu mengubah dari mentalitas buruh/pekerja elite yang diberikan kewenangan negara menjadi benar-benar sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Bahkan, kata dia, menjadi penolong masyarakat. 
 
"Kalau mentalitasnya masih menjadi bagian strata elite, dengan gaya hedonis, arogan pada masyarakat yang membutuhkan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan, revolusi mental itu bisa dikatakan hanya omong-omong kosong," tutur Bambang.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>