Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan)
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan)

Perusuh Aksi 22 Mei Dibekali Rp150 Juta untuk Beli Senjata

Nasional Demo Massa Penolak Pemilu
Kautsar Widya Prabowo • 28 Mei 2019 14:11
Jakarta: Polisi terus mengusut peredaran senjata api saat aksi 22 Mei 2019. Berdasarkan perkembangan kasus, salah satu tersangka yang juga perusuh saat aksi menolak hasil pemilu, HK, dibekali Rp150 juta hanya untuk membeli senjata.
 
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebut dana yang ditujukan untuk membeli senjata di luar bayaran yang akan diterima tersangka HK.
 
"(Rp) 150 juta itu buat beli senjata. Baru (dibelanjaka) Rp50 juta sudah dapat senjata, sisanya untuk beli senjata api laras panjang. Kalau yang laras pendek sudah ada empat buah," ujar Dedi di Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenpolhukam), Jakarta Pusat, Selasa, 28 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak cuma diperintahkan membeli senjata, Dedi mengungkapkan tersangka HK juga bertugas memetakan lokasi untuk eksekusi. Uang yang diterima HK, lanjut dia, berasal dari seorang yang diduga aktor intelektual dalam pecahan dolar Singapura secara tunai untuk kemudian ditukarkan dengan rupiah senilai Rp150 juta.
 
Baca juga:Polisi Diminta Ungkap Dalang Rencana Pembunuhan 4 Tokoh
 
Kepolisian, tambah Dedi, belum berencana menelusuri aliran dana tersebut melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sebabnya, proses pemeriksaan masih berlangsung.
 
"Pak Kadiv (Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal) nanti akan mengungkapkan semuanya itu. Jadi harus step by step dulu, biar proses pemeriksaan selesai dulu," pungkas dia.
 
Dalam kasus kerusuhan aksi 22 Mei, polisi telah menetapkan sejumlah tersangka di antaranyaHK, AZ, IF, TJ, AD, dan AF. Tersangka TJ dan tersangka HK masing-masing mendapatkan perintah untuk membunuh dua tokoh nasional.
 
Kemudian pada 13 Oktober 2018, HK membeli satu pucuk senjata api revolver cal 38 dari tersangka AF dengan harga Rp50 juta. Lalu pada 5 Maret 2019, HK kembali membeli satu pucuk senpi Mayer cal 22 seharga Rp5,5 juta dari tersangka AD, dan dua pucuk senpi rakitan laras panjang cal 22 seharga Rp15 juta dan senjat api laras pendek cal 22 seharga Rp6 juta. Senjata-senjata itu lalu diserahkan kepada TJ.
 
Baca juga:Kelompok Sakit Hati Diduga Otak Rencana Pembunuhan Tokoh Nasional
 
Pada 14 Maret 2019, HK menerima uang Rp150 juta dari seseorang yang memerintahkan dirinya untuk membeli senjata rakitan. TJ juga mendapat bagian Rp25 juta.
 
Pemberi uang yang identitasnya sudah diketahui polisi, memerintahkan TJ untuk membunuh dua tokoh nasional. Lalu pada 12 April 2019, HK juga diperintahkan orang yang sama untuk membunuh dua tokoh nasional lain.
 
Sekitar April 2019, selain ada perencana untuk membunuh target tokoh nasional yang telah ditentukan, terdapat juga perintah lain melalui AZ untuk membunuh seorang pimpinan satu lembaga survei. Tersangka IR sudah beberapa kali menyurvei rumah tokoh tersebut dan diperintahkan untuk mengeksekusi. IR sudah dapat imbalan Rp5 juta.
 
Keenam tersangka dijerat dengan Pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun penjara.
 
Dari tangan pelaku, polisi menyita sejumlah barang bukti, yaitu sepucuk pistol Taurus kaliber 38, dua boks peluru k 38 jumlah 93 butir dari tangan HK; pistol jenis Meyer kaliber 52, dan 5 butir peluru dari tangan AZ, sepucuk senpi laras panjang rakitan kaliber 22 dan sebuah senpi laras pendek rakitan kaliber 22 dari tangan TJ, serta rompi antipeluru dengan logo polisi.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif