Kapuspenkum Kejagung M Rum/MI/Golda Eksa
Kapuspenkum Kejagung M Rum/MI/Golda Eksa

Eks Direktur Pertamina Diperiksa Kejagung

Nasional pertamina Kasus hukum Karen Galaila
Ilham wibowo • 06 Juni 2018 14:13
Jakarta: Kejaksaan Agung (Kejagung) melanjutkan penyidikan kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina (Persero) di Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia, pada 2009. Mantan Direktur Pemasaran Pertamina Achmad Faisal diperiksa sebagai saksi dalam perkara tersebut.
 
"Penyidik melakukan pemeriksaan saksi. Pada pokoknya menerangkan mengenai proses dalam pengambilan keputusan akuisisi dan penentuan harga di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia," kata Kapuspenkum Kejagung M Rum melalui keterangan tertulis, Rabu, 6 Juni 2018.
 
Penyidik mendalami keterangan Achmad guna mengungkap jejak kasus tersebut. Pemanggilan Achmad menambah daftar saksi yang telah diperiksa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"(Kejagung) telah memeriksa 69 saksi," ujar Rum.
 
Penyidik telah menetapkan empat tersangka dalam kasus ini, yakni mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) BK, berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018 tanggal 23 Januari 2018.
 
Baca: Kejagung Tetapkan Eks Dirut Pertamina sebagai Tersangka
 
Status tersangka juga disematkan kepada eks Dirut Pertamina KGA, berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.
 
GP, Legal Councel and Compliance Pertamina, ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-14/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.
 
FS, mantan Direktur Keuangan Pertamina, ditetapkan tersangka berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-15/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.
 
Kasus bermula ketika PT Pertamina mengakuisisi (investasi nonrutin) pembelian sebagian aset (interest participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009 senilai US$31,9 juta.
 
Baca: Kejagung Kirim Tim ke Australia Terkait Kasus Karen
 
Dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi dinilai tidak sesuai pedoman. Pengambilan keputusan investasi diketahui berlaku tanpa adanya kajian kelayakan berupa kajian lengkap atau final due dilligence. Keputusan juga diambil tanpa persetujuan dewan komisaris.
 
Tindakan ini mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana mencapai US$31,5 juta. Akibat lainnya, muncul biaya lain atau cash call AU$ 26,8 juta yang tidak bermanfaat atau memberi untung kepada Pertamina.
 
Upaya penambahan cadangan dan produksi minyak nasional akhirnya merugikan keuangan negara di Pertamina hingga US$31,5 juta dan AU$ 26,8 juta atau setara Rp568 miliar sebagaimana perhitungan akuntan publik.
 
Tersangka dianggap melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(OJE)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif