Ilustrasi sidang Angin Prayitno/Istimewa
Ilustrasi sidang Angin Prayitno/Istimewa

Mantan Pejabat Ditjen Pajak Angin Prayitno Didakwa Terima Rp25,5 M

Candra Yuri Nuralam • 24 Januari 2023 16:51
Jakarta: Mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan Angin Prayitno Aji menjalani sidang dakwaan hari ini, 24 Januari 2023. Total uang panas yang diterima mencapai puluhan miliar rupiah.
 
"Melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, menerima gratifikasi berupa uang," kata jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Wawan Yunarwanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa, 24 Januari 2023.
 
Jaksa menyebut uang rupiah yang masuk dalam gratifikasi yang diterima mencapai Rp8.200.000.000. Lalu, ada juga dolar Singapura yang nilainya setara dengan Rp4.300.000.000.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Uang dola Amerika Serikat yang nilainya setara Rp5.000.000.000," ucap Wawan.
 
Jaksa juga menyebut ada gratifikasi yang khusus diterima oleh Angin. Rincian gratifikasi yakni rupiah sebesar Rp1.912.500.000, dolar Singapura setara Rp575.000.000 dan dolar Amerika Serikat senilai Rp1.250.000.000.
 

Baca: Bakal Diadili Lagi, Gratifikasi dan TPPU Angin Prayitno Ditaksir Mencapai Rp40 Miliar


Total uang yang khusus untuk Angin ditaksir mencapai Rp3.737.500.000. Jaksa juga menyebut ada penerimaan lainnya sebesar Rp25.767.667.100.
 
"Yang berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya," ujar Wawan.
 
Uang itu diterima bersama dengan lima mantan pegawai negeri sipil (PNS) pada Direktorat Pemeriksaan dan Penajgihan Ditjen Pajak Dadan Ramdani, Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yumanizar, dan Febrian. Duit panas itu diberikan dari tujuh perusahaan dan perorangan yang masuk dalam kategori wajib pajak.
 
Jaksa menjelaskan, gratifikasi pertama diberikan oleh PT Rigunas Agri Utama pada Februari 2018. Angin, Dadan, Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian menerima Rp1.500.000.000.
 
"Terdakwa dan Dadan Ramdani sebesar Rp675.000.000, sedangkan sebesar Rp675.000.000 dibagi rata kepada Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar dan Febrian. Sisanya sebesar Rp150.000.000 diberikan kepada Gunawan Sumargo," ucap Wawan.
 
Gratifikasi kedua berasal dari CV Perjuangan Steel pada 25 Juni 2018. Angin cs mendapatkan uang dolar Amerika Serikat senilai Rp5.000.000.000. Angin dan Dadan mendapatkan setengahnya. Sisanya dibagi kepada Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian.
 
Gratifikasi ketiga berasal dari PT Indolampung Perkasa pada Juli 2018. Angin cs disuntik duit dolar Singapura senilai Rp3.600.000.000. Jatah Angin dan Dadan Rp800.000.000.
 
"Sedangkan sisa uang dengan nilai setara Rp2.500.000.000 dibagi rata kepada Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian, masing-masing menerima SGD62.500. Sedangkan sisanya uang setara Rp300.000.000 dipergunakan untuk kas pemeriksa," terang Wawan.
 
Gratifikasi keempat berasal dari PT Esta Indonesia pada 2 November 2018. Total uang yang diterima Angin cs mencapai Rp4.000.000.000.
 
Angin dan Dadan mendapatkan Rp1.800.000.000. Konsultan pajak PT Esta Indonesia mendapatkan Rp400.000.000. Sisanya dibagi rata untuk Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian.
 
Gratifikasi kelima berasal dari wajib pajak Ridwan Pribadi pada 19 November 2018. Total uang yang didapatkan Angin cs sebesar Rp1.500.000.000.
 
Uang panas keenam berasal dari PT Walet Kembar Lestari pada 17 Januari 2019. Total uang yang diterima Angin cs mencapai Rp1.200.000.000.
 
Angin dan Dadan mendapatkan setengah dari uang panas itu. Sisanya dibagi rata untuk Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian.
 
Gratifikasi terakhir berasal dari PT Link Net pada Mei 2019. Total uang dari perusahaan itu sebesar Rp700.000.000 dalam bentuk dolar Singapura.
 
Jatah untuk Angin dan Dadan yakni Rp350.000.000. Sisanya untuk Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian.
 
Angin diyakini telah menerima Rp3.737.500.000 dari tujuh perusahaan dan perorangan itu. Namun, jaksa mencatat ada penerimaan gratifikasi sebesar Rp25.767.667.100.
 
"Sehingga total yang diterima terdakwa (Angin) seluruhnya sejumlah Rp29.505.167.100," ucap Wawan.
 
Jaksa menjelaskan gratifikasi ini dipermasalahkan karena Angin cs tidak melaporkannya dalam waktu 30 hari setelah penerimaan. Sehingga, KPK berhak memproses hukum penerimaan itu.
 
Dalam dugaan ini, Angin didakwa melanggar Pasal 12 B jo Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 
(ADN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif