Fayakhun Bantu Proyek Bakamla untuk Modal Politik
Ilustrasi sidang Fayakhun Andriadi - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Jakarta: Mantan anggota DPR RI Fayakhun Andriadi mengaku didorong oleh sahabatnya, Erwin Arief selaku Managing Director PT Rochde ans Schwarz agar maju dalam politik. Erwin juga bersedia membantunya dalam hal biaya politik.

Hal itu terungkap saat Fayakhun diperiksa sebagai terdakwa dalam sidang lanjutan perkara suap di Badan Keamanan Laut. Fayakhun mengaku, ia dan Erwin telah bersahabat sejak 2005.

"Saya memang bersahabat dengan Erwin, sehingga kami banyak ngobrol sebagai sahabat. Kami banyak bicara politik, Erwin ketua asosiasi mahasiswa Indonesia di Jerman sehingga sangat mengerti politik," kata Fayakhun di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 17 Oktober 2018.


Satu waktu pada 2016, Fayakhun dan Erwin kembali bertemu. Dalam pertemuan itu, Erwin mendorong Fayakhun untuk lebih maju dalam karier politiknya. 

Saat itu Fayakhun tak menyanggupi permintaan Erwin. Sebab, untuk membuat karier politiknya cemerlang dibutuhkan biaya tak sedikit. 

Namun, Erwin menjamin untuk membantu masalah pembiayaan. "Tapi dia bilang, 'Enggak, Kun, lo harus maju'" ucap Fayakhun menirukan perbincangannya dengan Erwin.

Pada saat itu pula Erwin menjamin akan membantu Fayakhun. Di kesempatan itu, eks Ketua DPD Partai Golkar itu juga bercerita kalau partainya tengah bergejolak. 

(Baca juga: Fayakhun Berikan Bantuan ke Novanto SG$500 Ribu)

Momen konflik di tubuh Golkar itu lah, kata Erwin, bisa membuat karier Fayakhun maju.
"Saya bilang 'Win, ini kebetulan akan ada Munas bulan Mei dan saya jadi panitia Munas, kalau rencana kamu supaya saya jadi salah satu ketua DPP untuk bantu-bantu Munas, saat ini timingnya, Munas 18-20 Mei di Bali', saya mengingatkan Erwin," tutur dia.

Setelah itu, Erwin menjanjikan Fayakhun untuk mendapatkan duit sebagai modalnya untuk berpolitik. Fayakhun ditawari mengurus anggaran pengadaan satelit monitoring di Bakamla. 

Ia dikenalkan kepada Direktur Utama PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah selaku kontraktor pelaksana pengadaan proyek tersebut. Ia juga dijanjikan imbalan 1 persen atau sekitar Rp12 miliar oleh Erwin dan Fahmi. 

Uang untuk mengurus anggaran Bakamla itu juga disebut mengalir ke Munas Golkar di Bali dan Setya Novanto yang saat itu menjabat sebagai ketua umum. Novanto jug diduga mendapat jatah SG$500.000 dari uang tersebut.

Fayakhun sebelumnya didakwa menerima suap USD911.480 terkait proyek satelit monitoring di Bakamla. Dia didakwa menerima uang itu dari Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah, sebagai penggarap proyek. 

Uang itu adalah imbalan atas jasa Fayakhun meloloskan alokasi penambahan anggaran Bakamla dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016. 

(Baca juga: Fayakhun Kesal Dipindah ke Komisi VIII oleh Novanto)





(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id