Eddy Sindoro. Foto: MI/Bary Fathahilah.
Eddy Sindoro. Foto: MI/Bary Fathahilah.

Mantan Petinggi Lippo Didakwa Suap Panitera PN Jakpus

Nasional suap di ma
Faisal Abdalla • 27 Desember 2018 15:44
Jakarta: Eks bos Lippo Group Eddy Sindoro didakwa menyuap panitera Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Edy Nasution. Suap diduga diberikan terkait pengurusan sejumlah perkara untuk beberapa perusahaan di bawah Lippo Group yang ditangani di PN Jakarta Pusat.
 
"Terdakwa telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, memberi atau menjanjikan sesuatu, kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ni Nengah Gina Saraswati saat membacakan surat dakwaan di pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis, 27 September 2018.
 
Eddy didakwa melakukan suap bersama-sama dengan pegawai PT Artha Pratama Anugerah Wresti Kristian Hesti Susetyowati, Presiden Direktur PT Paramount Enterprise Ervan Adi Nugroho, Hery Soegiarto dan Doddy Ariyanto Supeno.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jaksa KPK membeberkan bahwa perkara suap ini berawal dari putusan Singapore International Arbitration Centre (SIAC) yang menyatakan PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP) wanprestasi dan mewajibkan PT MTP membayar ganti rugi terhadap PT Kwang Yang Motor (PT KYMCO) sebesar USD11,100.000.
 
Pada 24 Desember 2013, PT KYMCO mendaftarkan putusan tersebut ke PN Jakpus agar putusan itu bisa dieksekusi di Indonesia lantaran PT MTP tak kunjung melunasi kewajibannya. PN Jakpus menyatakan putusan SIAC bisa dieksekusi di Indonesia.
 
Menindaklanjuti hal itu, PN Jakpus melakukan pemanggilan kepada PT MTP melalui PN Tangerang namun PT MTP tak hadir. PN Jakpus kemudian melakukan pemanggilan kedua kepada PT MTP pada 22 Desember 2015.
 
Baca: Dina Soraya Atur Pelarian Eddy Sindoro
 
Mengetahui adanya panggilan, Eddy Sindoro memerintahkan Wresti Kristian Hesti Susetyowati untuk mengupayakan penundaan. Wresti kemudian menemui Edy Nasution di PN Jakpus untuk menyampaikan keinginan Eddy Sindoro.
 
Edy Nasution menyanggupi permintaan Eddy Sindoro untuk menunda hingga Januari 2016 dengan imbalan Rp100 juta.
 
Permintaan imbalan ini kemudian disetujui oleh Eddy Sindoro dan mengizinkan Wresti untuk berkoordinasi dengan Hery Soegiarto terkait pencarian uang suap tersebut.
 
18 Desember 2016, uang sebesar Rp100 juta diserahkan kepada Edy Nasution melalui perantara Wawan Sulistiawan, dan Dody Aryanto Supeno.
 
Selain itu, Eddy Sindoro juga didakwa menyuap Edy Nasution sebesar Rp50 juta dan USD50 ribu terkait perkara Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan PT Across Asia Limited (AAL).
 
"Perbuatan terdakwa memberikan uang yang seluruhnya berjumlah Rp150 juta dan USD50 ribu kepada Edy Nasution bertentangan dengan kewajiban Edy sebagai penyelenggara negara," imbuh Jaksa.
 
Eddy disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a dan atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU Tindak Pidana Korupsi Nomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.
 

 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif