Kivlan Zen/Medcom.id/Cindy
Kivlan Zen/Medcom.id/Cindy

Kivlan-Habil Marati Dikonfrontasi Sore Nanti

Nasional kasus makar
Siti Yona Hukmana • 18 Juni 2019 10:48
Jakarta: Tersangka dugaan kepemilikan senjata api ilegal Kivlan Zen akan dikonfrontasi dengan tersangka percobaan pembunuhan Habil Marati dan Iwan Kurniawan. Mereka akan dinterogasi berhadap-hadapan.
 
"Iya kita semua hadir sekitar pukul 17.00 WIB," kata Kuasa Hukum Kivlan, Muhammad Yuntri, kepada Medcom.id di Jakarta, Selasa, 18 Juni 2019.
 
Kivlan juga bakal dihadapkan dengan Titi dan Azmi. Titi dan Azmi merupakan saksi kasus percobaan pembunuhan yang menyeret Politikus PPP Habil Marati sebagai tersangka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Iya nanti ada lima orang, Ada Habil Marati, Iwan Kurniawan, Pak Kivlan, Titi dan Azmi. Ini semua pihak yang ada di unit 2 terkait dengan tersangka Habil Marati," beber Yuntri.
 
Yuntri menjelaskan pada pemeriksaan Senin, 17 Juni, Kivlan membantah semua keterangan yang disampaikan tersangka Iwan Kurniawan. "Karena saksi kunci daripada Habil Marati itu Iwan. Nah, kita bantah semua itu. Dengan adanya itu kan tidak membuktikan keterlibatan Kivlan di situ," imbuhnya.
 
Baca: Kivlan dan Habil Marati Akan Dikonfrontasi
 
Ia menegaskan polisi harus membebaskan Kivlan bila hasil konfrontrasi tak bisa membuktikan keterlibatan kliennya. Konfrontasi jadi ajang menunjukkan kebenaran tudingan terhadap Kivlan.
 
Sebelumnya, Kivlan mengakui telah menerima uang dari Politikus PPP Habil Marati. Ia menerima SGD4.000 setara Rp42.400.000.
 
"Mengakui, tapi tidak sesuai dengan tuduhan. Uang itu hanya untuk demo. Tidak ada kaitan sama sekali dengan masalah pembelian senjata, membunuh tidak ada sama sekali," kata Yuntri.
 
Kivlan diperiksa lebih kurang 10 jam. Ia mulai diinterogasi penyidik terkait aliran dana itu pada Senin, 17 Juni pukul 11.00 hingga pukul 21.00 WIB. Dalam pemeriksaan itu, Kivlan memberikan nomor rekening ke penyidik untuk mengecek uang yang masuk.
 
"Dicek tadi rekening. Dikasihkan rekeningnya, bahwa terima ke rekening ia terima dan sampaikan ada. Yang satu Rp50 juta. Yang satu lagi SGD4.000 untuk kegiatan antikomunis atau supersemar yang di Monas," tutur Yuntri.
 
Baca: Polisi Tolak Laporan Kubu Kivlan Zen
 
Yuntri menerangkan uang Rp50 juta itu diberikan Kivlan kepada anak buahnya Iwan Kurniawan (IK) yang saat ini juga telah ditetapkan sebagai tersangka. Uang itu digunakan untuk tour ke daerah-daerah mengantisipasi gerakan-gerakan komunis.
 
"Kemudian, Iwan ditugaskan untuk demo dan dia menyanggupi seribu orang dibawa dari Banten. Nyatanya tidak ada, dan kemudian menghilang," beber Yuntri.
 
Yuntri mengungkapkan Kivlan dan Habil saling kenal mengenal setahun lalu. Mereka kenal lewat sebuah grup di media sosial WhatsApp (WA).
 
Uang yang diterima Kivlan, kata Yuntri, diberikan secara sukarela oleh Habil. Tak ada imbalan apa pun yang diharapkan Habil.
 
"Sukarela saja. Mereka kan kenal dari WA grup. Itu grup untuk diskusi saja tentang masalah kebangsaan. Itu ada gerakan GMBI, karena di diskusi itu berkembang butuh uang untuk keperluan gerakan antikomunis, beliau (Habil) kasih," terang Yuntri.
 
Baca: Kivlan Zen Minta Perlindungan Hukum ke DPR
 
Meski telah kenal satu tahun, Yuntri menyebut kliennya tak terlau dekat dengan Politikus PPP itu. "Dekat juga enggak, jauh juga enggak, tapi kenal baik," aku Yuntri.
 
Habil Marati disebut sebagai donatur eksekutor empat pejabat negara yang menjadi target pembunuhan. Ia menyerahkan uang Rp60 juta kepada para calon eksekutor. Namanya disebut dalam investigasi majalah Tempo yang berjudul 'Tim Mawar dan Rusuh Sarinah' yang terbit pada Senin, 10 Juni 2019.
 
Habil telah ditahan polisi. Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary mengungkapkan Habil memberi uang kepada mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebesar SGD15 ribu atau setara Rp150 juta.
 
Kivlan disebut memberikan uang itu kepada anak buahnya, Iwan Kurniawan alias Helmi Kurniawan untuk membeli senjata laras panjang dan pendek. Senjata itu disebut untuk menembak mati Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.
 

(OJE)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif