Pengunjuk rasa berfoto dengan latar belakang api yang membakar pos polisi saat demonstrasi menentang UU Cipta Kerja. Foto: Antara/Galih Pradipta
Pengunjuk rasa berfoto dengan latar belakang api yang membakar pos polisi saat demonstrasi menentang UU Cipta Kerja. Foto: Antara/Galih Pradipta

Ini Alasan Polisi Bertindak Kasar kepada Jurnalis Saat Demo UU Ciptaker

Nasional kekerasan terhadap wartawan Omnibus Law Demo Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja
Siti Yona Hukmana • 09 Oktober 2020 15:37
Jakarta: Polri mengakui adanya dugaan anggotanya melakukan intimidasi dan penganiayaan terhadap jurnalis saat aksi demonstrasi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Namun, tindakan bengis itu diklaim tidak sengaja karena situasi di lapangan tidak kondusif.
 
"Memang kita seharusnya menjunjung dan melindungi wartawan, tapi karena situasinya chaos dan anarkistis anggota juga melindungi dirinya sendiri," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 9 Oktober 2020.
 
Argo mengatakan hampir 10 ribu personel Polri diturunkan untuk mengamankan unjuk rasa UU Ciptaker di Ibu Kota. Dia mengaku imbauan agar personel itu menghindari kesalahpahaman dengan jurnalis terus dilakukan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Imbauan agar polisi dan jurnalis bekerja sama di lapangan juga terus digaungkan. Jurnalis bahkan diminta cukup memperlihatkan kartu identitas kepada petugas saat situasi tidak terkendali.
 
"Yang jelas nanti bisa diberitahu teman-teman mencari berita, disampaikan saja bahwa saya seorang wartawan sedang meliput, nanti di belakang dan akan dilindungi," kata mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu.
 
Baca: Liput Demo UU Ciptaker, Jurnalis Suara.com Diintimidasi Polisi
 
Argo tak mau berkomentar banyak soal dugaan penganiayaan jurnalis itu. Polisi, kata dia, akan mendalami lebih dulu ihwal kejadian tersebut.
 
"Nanti kita akan crosscheck dulu kejadiannya seperti apa," kata dia.
 
Dua jurnalis mengaku mendapat intimidasi dari polisi saat meliput demo UU Ciptaker. Mereka adalah jurnalis Suara.com Peter Rotti dan jurnalis CNNIndonesia.com Tohirin.
 
Peter mengaku mendapat perlakuan kasar dari anggota polisi. Ponselnya dirampas dan dibanting hingga kartu memorinya disita. Bahkan dia juga menerima pukulan di bagian pelipis dan tangan. Intimidasi itu disebut terjadi karena Peter merekam aksi pengamanan peserta demo.
 
Sementara, Tohirin mengaku mendapat pukulan di bagian kepalanya. Padahal Tohirin sudah memperlihatkan kartu identitasnya. Anggota tetap menyeret Tohirin hingga handphonenya dirampas.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif