Pengunjuk rasa berfoto dengan latar belakang api yang membakar pos polisi saat demonstrasi menentang UU Cipta Kerja di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020. Foto: Antara/Galih Pradipta
Pengunjuk rasa berfoto dengan latar belakang api yang membakar pos polisi saat demonstrasi menentang UU Cipta Kerja di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020. Foto: Antara/Galih Pradipta

Liput Demo UU Ciptaker, Jurnalis Suara.com Diintimidasi Polisi

Nasional Omnibus Law Demo Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja
Siti Yona Hukmana • 09 Oktober 2020 05:15
Jakarta: Jurnalis Suara.com, Peter Rotti, mengaku diintimidasi polisi saat meliput demonstrasi penolakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Aparat disebut tak terima perbuatannya kepada pedemo direkam.
 
Pemimpin Redaksi (Pemred) Suara.com Suwarjono mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar Kamis, 8 Oktober 2020, pukul 18.00 WIB. Peter merekam video aksi sejumlah polisi mengeroyok seorang peserta aksi di sekitar Halte TransJakarta Bank Indonesia.
 
"Ketika itu Peter berdua dengan rekannya, yang juga videografer, yakni Adit Rianto S, melakukan live report peristiwa aksi unjuk rasa penolakan omnibus law via akun YouTube," kata Suwarjono melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 8 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, berdasarkan pengakuan Peter, perekaman penganiayaan itu membuat polisi tersulut emosi. Seorang aparat berpakaian sipil serba hitam langsung menghampiri Peter.
 
"Kemudian disusul enam orang Polisi yang belakangan diketahui anggota Brimob (Brigade Mobil). Para polisi itu meminta kamera Peter, namun ia menolak sambil menjelaskan bahwa dirinya jurnalis yang sedang meliput," ungkap Suwarjono.
 
Suwarjono mengatakan polisi tetap bertindak kasar meski telah mengetahui Peter jurnalis. Polisi disebut memaksa dan merampas kamera Peter.
 
"Seorang dari polisi itu sempat meminta memori kamera. Peter menolak dan menawarkan akan menghapus video aksi kekerasan aparat polisi terhadap seorang peserta aksi," ujar Suwarjono.
 
Para polisi tetap ngotot merampas kamera Peter. Setelah itu, Peter diseret sambil dipukul dan ditendang segerombolan polisi tersebut.
 
"Saya sudah jelaskan kalau saya wartawan, tetapi mereka (polisi) tetap merampas dan menyeret saya. Tadi saya sempat diseret dan digebukin, tangan dan pelipis saya memar," kata Peter melalui sambungan telepon.
 
Peter mengaku kameranya dikembalikan. Namun, memori yang berisi rekaman video liputan aksi unjuk rasa mahasiswa dan pelajar di sekitar Patung Kuda Arjuna Wijaya, Monas, Jakarta Pusat itu diambil polisi.
 
Baca: Jurnalis Merahputih.com Hilang Kontak Saat Meliput Demo UU Ciptaker
 
Peter saat ini dalam kondisi memar di bagian muka dan tangannya akibat penganiayaan polisi. Suwarjono mengecam aksi penganiayaan terhadap jurnalisnya, maupun jurnalis media lain yang mengalami aksi serupa.
 
"Sebab, jurnalis dalam melakukan tugas-tugas jurnalistik selalu dilindungi oleh perundang-undangan. Saya juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas hal ini," papar Suwarjono.

 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif