Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo. Medcom.id/Siti Yona
Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo. Medcom.id/Siti Yona

Soal Hasil Autopsi Pertama Brigadir J, Dokfor RS Polri Sudah Sesuai Prosedur

Siti Yona Hukmana • 10 Agustus 2022 13:56
Jakarta: Polri menegaskan dokter forensik (dokfor) Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur tidak melanggar etik terkait pelaksanaan autopsi pertama jenazah Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Hasilnya telah disampaikan berdasarkan autopsi yang dilakukan sesuai prosedur. 
 
"Ya sesuai standar operasional prosedur (SOP), keilmuan dan kode etik profesi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Rabu, 10 Agustus 2022.
 
Namun, Dedi tak memungkiri bakal memeriksa dokfor RS Polri. Saat ini Polri masih menunggu hasil autopsi kedua yang dilakukan perhimpunan dokter forensik Indonesia (PDFI). 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tunggu hasil dari PDFI yang dalam waktu dekat akan disampaikan hasil autopsi ke-2. Kalau dokfor RS Polri tetap sesuai kode etik profesi dan menyampaikan secara keilmuan," ungkap jenderal bintang dua itu. 
 
Sebelumnya, Polri tegas mengatakan Brigadir J tewas akibat baku tembak. Pernyataan itu diungkap Polri setelah mendapatkan hasil autopsi dari RS Polri.
 

Baca juga: Otak Pembunuhan Brigadir J, Irjen Ferdy Sambo Ditahan di Mako Brimob


Namun, faktanya ternyata tidak ada baku tembak meski hasil autopsi kedua belum keluar. Hal itu diketahui dari pemeriksaan CCTV dan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta pengakuan Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu (RE)
 
Bharada RE mengaku menembak Brigadir J atas perintah pimpinannya mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Sedangkan, pistol yang disebut milik Brigadir J ditembakkan ke dinding agar seolah-olah terjadi baku tembak. Fakta ini dibongkar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat konferensi pers, Selasa, 9 Agustus 2022.
 
"Kemudian untuk membuat seolah-olah telah terjadi tembak menembak, saudara FS (Ferdy Sambo) melakukan penembakan dengan senjata milik saudara J ke dinding berkali-kali untuk membuat kesan seolah-olah terjadi tembak menembak," beber Listyo. 
 
Polri menetapkan empat tersangka dalam kasus penembakan Brigadir J. Keempatnya ialah Irjen Ferdy Sambo, Bharada RE, Bripka Ricky Rizal (RR), dan KM alias Kuat yang merupakan asisten rumah tangga (ART) sekaligus sopir Putri Candrawathi, istri Irjen Sambo. 
 
Keempat tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, juncto Pasal 55 dan 56 KUHP. Dengan ancaman hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun. 

 
(END)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif