Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Polisi Disebut Tak Mengusut Tuntas Kasus Pembela HAM

Nasional polri
Siti Yona Hukmana • 30 Juni 2020 20:20
Jakarta: Kepolisian dinilai tebang pilih dalam memproses kasus. Penanganan kasus terhadap korban pembela hak asasi manusia (HAM) selalu abai.
 
"Para pembela HAM yang menjadi korban tidak diselesaikan, tidak diusut secara tuntas oleh aparat kepolisian," kata staf pembelaan hukum hak asasi manusia (HAM) KontraS, Andi Muhammad Rezaldy, dalam diskusi daring bertema Tak Kenal Prioritas Semua Ditebas, Peluncuran Laporan Peringatan HUT Bhayangkara ke-74, Selasa, 30 Juni 2020.
 
Andi mengatakan sikap polisi itu akan menimbulkan dampak buruk terhadap pembela HAM. Salah satunya akan terus terjadi ancaman.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Andi meminta Korps Bhayangkara menuntaskan semua kasus dengan maksimal dan tanpa tebang pilih. Andi juga meminta negara hadir melindungi pembela HAM.
 
"Kami juga menuntut kepada negara untuk bisa membuat produk legislasi, produk peraturan yang dapat memberikan jaminan, juga perlindungan terhadap pembela hak asasi manusia (HAM)," ujar dia.
 
Baca: Polri Dinilai Tak Serius Tangani Kasus Novel Baswedan
 
Dia mencontohkan kasus kematian aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatra Utara, Golfrid Siregar, yang tak kunjung ada titik terangnya. Dia meninggal di Rumah Sakit Umum Pratama Adam Malik Medan, Minggu, 6 Oktober 2019.
 
Andi menilai kematian Golfrid tak wajar. Sebab, dia sempat hilang dan ditemukan dalam keadaan luka-luka yang diduga akibat korban kekerasan.
 
"Sayangnya adalah Polda Sumatra Utara ketika itu secara buru-buru, secara cepat menetapkan bahwa meninggalnya Golfrid Siregar karena kecelakaan tunggal. Ini yang menurut kami merupakan kegagalan," ungkap Andi.
 
Polda Sumut, kata Andi, menyebutkan fakta-fakta kecelakaan tunggal tersebut. Salah satunya, Golfrid disebut mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan 40 km/jam.
 
Fakta itu dinilai Andi tak sebanding dengan luka yang diterima Golfrid. Pasalnya, Golfrid mengalami luka lebam di area mata kanan, lalu luka bengkak sebelah kanan tempurung kepala.
 
"Seperti terkena (pukulan benda) tumpul," ucap dia.
 
KontraS, kata Andi, meyakini Golfrid bukan korban kecelakaan. KontraS menemukan fakta-fakta yang bukan mengarah kepada kecelakaan.
 
Namun, Andi tak membeberkan fakta yang ditemukan KontraS. Dia menyebut kejanggalan ini ada dari proses penyelidikan oleh kepolisian.
 
"Kejanggalan lainnya yaitu tidak secara transparan kepada keluarga korban maupun pihak-pihak yang melakukan advokasi untuk mengungkapkan peristiwa ini, seperti menguraikan mengenai pola kejadian, informasi teknis dan juga informasi-informasi yang lainnya," ujar Andi.
 
Polisi disebut tidak transparan mengenai hasil autopsi Golfrid. Polisi tak memberitahu keluarga terkait adanya kandungan alkohol dalam lambung Golfrid.
 
"Jadi kami melihat ada indikasi menggiring publik bahwa ini adalah laka tunggal, bukan dikarenakan adanya peristiwa kekerasan yang kami yakin ini adalah berkaitan dengan kasus-kasus apa yang dia dampingi selama menjadi manajer advokasi Walhi Sumut," papar dia.
 
Polisi juga dinilai tak menuntaskan penyelidikan pembakaran rumah Direktur Walhi Nusa Tenggara Barat (NTB), Murdani, oleh orang tak dikenal (OTK). Peristiwa itu terjadi sebelum tewasnya Golfrid, tepatnya pada 28 Januari 2019 sekitar pukul 03.00 WITA.
 
"Nah hingga hari ini kasus Murdani, Direktur Walhi di Nusa Tenggara Barat itu sampai sekarang tidak selesai," ujar Andi.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif