Fredrich Yunadi Hadapi Tuntutan Jaksa Hari Ini
Fredrich Yunadi. Foto: MTVN arga
Jakarta: Terdakwa perkara merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (KTP-el) Fredrich Yunadi akan menghadapi tuntutan Jaksa KPK hari ini. Fredrich didakwa merintangi penyidikan perkara yang menjerat mantan kliennya, Setya Novanto.
 
"Untuk sidang Fredrich Yunadi agendanya pembacaan tuntutan siang ini," kata Humas Pengadilan Tipikor Jakarta, Sunarso kepada wartawan, Kamis, 31 Mei 2018.
 
Jaksa KPK mendakwa Fredrich merekayasa kecelakaan yang dialami Setya Novanto pada November 2017. Fredrich bersama dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesha Sutarjo juga diduga memanipulasi data medis mantan Ketua DPR RI itu.
 
Dalam surat dakwaannya, Jaksa membeberkan bahwa Fredrich sempat memesan kamar VIP 323 RS Medika untuk Novanto kepada Bimanesh sebelum kecelakaan Novanto terjadi.
 
"Pada tanggal 16 November 2017 pukul 11.00, terdakwa menghubungi dr. Bimanesh Sutarjo yang telah dikenal terdakwa untuk menangani SN di RS Permata Hijau dengan diagnosa beberapa penyakit termasuk hipertensi." beber jaksa saat membacakan dakwaan, Kamis, 8 Februari 2018.
 
Jaksa juga mengungkapkan Frederich  sempat bertemu dengan Bimanesh di kediamannya di Apartemen Botanica, Simprug, Jakarta Selatan pada pukul 14.00 untuk menegaskan permintaannya tersebut. Bimanesh lalu menyanggupi permintaan Frederich.
 
"Selanjutnya dr. Bimanesh Sutarjo menghubungi plt. Manajer RS Permata Hijau, Dr. Alia agar menyiapkan ruang VIP untuk pasien atas nama Setya Novanto dengan diagnosa hipertensi berat, padahal saat itu dr. Bimanesh belum memeriksa SN," beber Jaksa.
 
Lalu pada pukul 17.30, Frederich disebut menemui dokter jaga hari itu, yaitu Michael Chia Cahaya untuk meminta dibuatkan surat perintah rawat inap. Namun Michael menolak. Frederich lalu menemui Alia untuk mengecek kamar VIP sekaligus meminta untuk mengubah alasan Novanto harus dirawat inap, dari semula karena hipertensi berat menjadi kecelakaan.
 
"Padahal SN sendiri saat itu berada di Gedung DPR bersama Reza Pahlevi dan Hilman Mattauch," lanjut jaksa.

Baca: Fredrich Disebut Pernah Minta Pekerjaan ke Penyidik KPK

Pada pukul 18.30, Bimanesh tiba di RS Permata Hijau dan membuat surat pengantar rawat inap dari IGD karena Michael menolak perimintaan Frederich yang sebelumnya sudah meminta dibuatkan surat tersebut.
 
Dalam surat pengantar itu, Bimanesh menuliskan diagnosis Novanto yaitu Vertigo, Diabetes Melitus, dan Hipertensi meskipun saat itu Bimanesh belum pernah mendiagnosa Novanto.
 
Sekira pukul 18.45, Novanto tiba di Rs. Medika Permata Hijau dan langsung dibawa ke kamar VIP No. 323 sesuai dengan surat pengantar rawat inap yang dibuat Bimanesh setelah Novanto tiba di ruang VIP.
 
"Lalu Bimanesh memerintahkan Indri, perawat Rs. Medika untuk membuang surat perintah rawat inap yang telah dibuat sebelumnya dan diganti baru dengan surat pengantar dari poli yang ditandatangani oleh Bimanesh meskipun saat itu bukan merupakan jadwal praktek Bimanesh," beber jaksa.
 
Jaksa dalam dakwaannya juga turut menyoroti pernyataan Frederich kepada wartawan yang menyebut kondisi Novanto berdarah-darah dan terdapat benjol di dahi sebesar bakpao. Ketika, penyidik KPK tiba di RS Medika sekira pukul 21.00 dan mengecek kondisi Novanto yang ternyata tidak mengalami luka serius.
 
"Namun terdakwa menyampaikan kepada penyidik bahwa Novanto sedang dirawat intesif dan tak bisa dimintai keterangan. Terdakwa juga meminta Mansur, satpam Rs. Permata Hijau untuk menyampaikan kepada penyidik KPK agar meninggalkan ruang VIP lantai 3 karena sebagain besar kamarnya sudah disewa untuk keluarga Novanto," ujar Jaksa.
 
Atas perbuatan-perbuatan yang dibeberkan jaksa dalam dakwaanya, Frederich disangkakan melanggar pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
 




(FZN)