Bupati Rita: Puasa di Rutan Kayak Pesantren Kilat
Bupati nonaktif Kutai Kartanegara Rita Widyasari bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK Jakarta, Jumat (19/1/2018). Foto: Antara/Wahyu Putro A
Jakarta: Bupati nonaktif Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, menanggapi santai bakal menjalani bulan suci Ramadan di rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rita mengaku sudah terbiasa dengan suasana rutan.

"Aku kan sudah hampir 8 bulan ya di sana (rutan KPK), insyaallah biasa saja. Kalau kangen keluarga, ya pasti," kata Rita di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu, 16 Mei 2018.

Rita mengaku sudah meminta keluarganya membawakan sejumlah perlengkapan untuk persiapan Ramadan di rutan KPK. Termasuk persiapan makanan untuk sahur dan berbuka puasa.


"Belanjaanku banyak pokoknya. Nanti dititipkan sama keluarga, masakannya sudah matang, tinggal dipanaskan," tukasnya.

Baca juga: Rita Widyasari Didakwa Terima Gratifikasi Rp469 Miliar

Lebih lanjut, Rita mengaku tak keberatan menjalani ibadah puasa di rutan. Ia justru merasa lebih fokus beribadah di dalam rutan.

"Intinya tidak ada perubahan, kecuali perubahan tempat saja. Kebetulan aku di dalam itu berdelapan, wanita dan muslim semua. Agamanya juga kuat semua. Jadi kayak pesantren kilat saja. Mirip pesantren, jadi lebih konsen di sana (rutan KPK). Ketika azan semua langsung salat, asik-asik saja," kata dia.

Baca juga: Penyuap Bupati Rita Dituntut 4,5 Tahun Bui

Bupati nonaktif Kukar Rita Widyasari dan Komisaris PT Media Bangun Bersama Khairudin didakwa menerima gratifikasi uang sejumlah Rp469 miliar. Uang itu diterima Rita terkait perizinan pelaksana proyek pada dinas-dinas di Kabupaten Kukar.

Rita dan Khairudin didakwa melanggar Pasal 12 huruf B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP.





(MBM)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id