Ilustrasi KPK - MI.
Ilustrasi KPK - MI.

Tersangka Korupsi Proyek Air Minum Diperiksa

Nasional OTT di Kementerian PUPR
Ilham Pratama Putra • 27 Maret 2019 12:11
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan pada Kepala Satuan Kerja Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Strategis atau PPK SPAM Lampung, Anggiat Partunggul Nahot Simaremare (ARE). Anggiat diperiksa sebagai tersangka terkait kasus dugaan suap proyek pembangunan SPAM milik Kementerian PUPR.
 
Selain Anggiat, KPK juga memeriksa empat saksi lain. Yakni Direktur Utama PT Kalfaz Sadhara, Munzier; Direktur Utama PT Tirta Sarana Mulia Teknologi, Riza Lesmana; pegawai CV Aman Makmur, Safrian; dan pegawai PT Waskita Karya, Thomas Aquino Triwijoyo.
 
"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka ARE," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu, 27 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPK sejauh ini telah menerima pengembalian uang suap dari 59 pejabat Kementerian PUPR terkait kasus ini. Total uang yang dikembalikan sebanyak Rp22 miliar, USD148.500, dan SGD28.100. Uang itu dikembalikan ke KPK secara bertahap.
 
Lembaga antirasuah juga telah menyita rumah dan tanah di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, serta emas batangan seberat 500 gram. Kedua aset tersebut disita KPK dari dua pejabat Kementerian PUPR karena diduga fee dari proyek tersebut.
 
(Baca juga:Dirut PT WKE Didakwa Menyuap Pejabat Kementerian PUPR)
 
Dalam kasus ini KPK menetapkan delapan orang sebagai tersangka. Empat di antaranya sebagai pihak pemberi yakni Direktur Utama PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE), Budi Suharto; Direktur PT WKE, Lily Sundarsih; Direktur PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP), Irene Irma; Direktur PT TSP, Yuliana Enganita Dibyo.
 
Kemudian sebagai pihak penerima, Kepala Satuan Kerja SPAM Strategis atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) SPAM Lampung, Anggiat Partunggul Nahot Simaremare; PPK SPAM Katulampa, Meina Woro Kusrinah; Kepala Satuan Kerja SPAMDarurat, Teuku Moch Nazar; dan PPK SPAM Toba I, Donny Sofyan Arifin.
 
Dalam kasus ini, Anggiat, Meina, Nazar, dan Donny diduga menerima suap untuk mengatur lelang terkait proyek pembangunan SPAM tahun 2017-2018 di Umbulan 3 Pasuruan, Lampung, Toba 1 dan Katulampa.
 
Sementara dua proyek lain yang juga diatur lelangnya yaitu pengadaan pipa High Density Polyethylene (HDPE) di Bekasi dan daerah bencana di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah. Lelang diatur sedemikian rupa untuk dimenangkan oleh PT WKE dan PT TSP.
 
Anggiat diduga menerima fee untuk pemulusan proyek-proyek itu sebesar Rp850 juta dan USD5 ribu, Meina menerima Rp1,42 miliar dan USD22 ribu. Kemudian, Nazar menerima Rp2,9 miliar dan Donny menerima 170 juta.
 
(Baca juga:4 Pejabat Kementerian PUPR Kembalikan Uang Suap ke KPK)

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif