Warga Prancis, Francois Abello Camille (baju tahanan). Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Warga Prancis, Francois Abello Camille (baju tahanan). Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Potensi Bunuh Diri Pelaku Kejahatan Seksual Sangat Tinggi

Nasional kekerasan seksual anak pedofilia
Siti Yona Hukmana • 14 Juli 2020 08:54
Jakarta: Kepolisian diminta memperlakukan pelaku kejahatan seksual dengan pendekatan khusus. Potensi bunuh diri tersangka kejahatan seksual di rumah tahanan (rutan) sangat tinggi.
 
"Bunuh diri di kalangan pelaku (kejahatan seksual) memang tinggi, sekitar 180 kali lebih tinggi daripada bunuh diri masyarakat umum," kata psikolog forensik Reza Indragiri Amriel saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2020.
 
Dia meyakini ada faktor tertentu yang membuat predator 305 anak asal Prancis bunuh diri di ruang tahanan. Polisi diminta memberi pengawasn khusus agar pelaku kejahatan seksual tak mengakhiri hidupnya sebelum dibawa ke pengadilan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Awas, jangan sampai pelaku lainnya termasuk pelaku warga negara asing (WNA) melakukan aksi fatal serupa," ujar Reza.
 
Baca: Predator Anak Asal Prancis Bunuh Diri
 
Predator 305 anak, Francois Abello Camille, 65, berusaha bunuh diri di dalam sel pada Kamis malam, 9 Juli 2020. Dia mengikat leher menggunakan kabel dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 20.00 WIB, Minggu, 12 Juli 2020, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
 
Baca: Polisi Mengklaim Berupaya Menyelamatkan Nyawa Predator Anak
 
Subdit 5 Renakta Dit Reskrimum Polda Metro Jaya menangkap Francois di Hotel Prinsen Park, Mangga Besar, Jakarta Barat pada Juni 2020. Dia tertangkap basah dalam kondisi setengah bugil di dalam kamar hotel bersama dua orang anak di bawah umur.
 
Francois diduga melakukan eksploitasi secara ekonomi untuk kejahatan seksual kepada anak atau child sex groomer. Dia beraksi sejak Desember 2019 hingga Juni 2020 dengan total korban mencapai 305 orang.
 
Warga negara Prancis itu dijerat pasal berlapis, yakni persetubuhan terhadap anak di bawah umur dalam Pasal 81 juncto 76D Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman paling singkat lima tahun maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.
 
Kemudian, persetubuhan terhadap anak di bawah umur dengan korban lebih dari satu, Pasal 81 ayat (5) juncto 76D UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya pidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun, serta dapat dikenai
tindakan kebiri kimia.
 

(SUR)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif