Terdakwa Karen Agustiawan - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Terdakwa Karen Agustiawan - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Pertamina Mengaku Investasi di Australia Rugi USD30 Juta

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
M Sholahadhin Azhar • 28 Februari 2019 13:41
Jakarta: Deputi Pendanaan dan Manajemen Risiko Pertamina Evita Maryanti Tagor mengungkapkan investasi Roc Oil Company Limited (ROC), Australia bikin perusahaan pelat merah itu merugi. Investasi USD30 juta ke ROC di Blok Basker Manta Gummy (BMG) tak kembali.
 
"Enggak bisa kembali yang mulia, lapangan juga sudah dikembalikan ke pemerintah Australia," kata Evita saat bersaksi untuk terdakwa Karen Agustiawan di Pengadilan Tipikor, Jalarta Pusat, Kamis, 28 Februari 2019.
 
Evita menuturkan kerugian negara itu muncul usai kerja sama dihentikan karena tak menghasilkan. Evita menyebut investasi tak sesuai target, meski awalnya menghasilkan minyak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi memang nggak memberikan hasil yang diharapkan sesuai rencana," ujar Evita.
 
Awalnya, akuisisi Blok BMG dari ROC dimaksudkan memperluas sumber minyak mentah bagi Indonesia. Mengingat, persediaan minyak domestik semakin menipis.
 
Tapi kerja sama itu tak membuahkan hasil, melainkan kerugian. Sebab produksi tak sesuai harapan. Dari skala perhitungan 10, hanya 3 yang didapat.
 
(Baca juga:Karen Agustiawan Didakwa Rugikan Negara Rp568 Miliar)
 
"Ternyata minyak itu enggak bisa atau enggak cukup untuk kita bawa ke Indonesia sehingga hasil nggak sesuai rencana," tutur dia.
 
Karen Galaila Agustiawan didakwa merugikan keuangan negara senilai Rp568 miliar dari hasil korupsi saat menjabat sebagai Direktur Hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan Direktur Utama PT Pertamina periode 2009-2014. Dia dianggap mengabaikan prosedur investasi PT Pertamina, terkait Participating Interest (PI) atas Lapangan atau Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009.
 
Dalam surat dakwaan disebutkan, Pertamina sama sekali tak memperoleh keuntungan secara ekonomis lewat investasi di Blok BMG. Pasalnya, sejak 20 Agustus 2010, ROC selaku operator di blok BMG menghentikan produksi.
 
"Walau sejak 20 Agustus 2010, ROC telah menghentikan produksi di Blog BMG, namun berdasarkan SPA antara PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan ROC, PT PHE wajib membayar kewajiban biaya operasional cash call dari blok BMG Australia sampai dengan tahun 2012 sehingga hal tersebut menambah beban kerugian bagi PT Pertamina," papar jaksa saat membacakan dakwaan akhir Januari 2019.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif