Penyidik senior KPK Novel Baswedan menunjukkan poster dukungan pembentukan TGPF atas kasus yang menimpa dirinya. Foto: MI/Rommy Pujianto
Penyidik senior KPK Novel Baswedan menunjukkan poster dukungan pembentukan TGPF atas kasus yang menimpa dirinya. Foto: MI/Rommy Pujianto

Novel: Dewi Tanjung Ngawur

Nasional novel baswedan
Antara • 07 November 2019 18:02
Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebut tindakan kader PDI Perjuangan Dewi Ambarwati Tanjung tak masuk akal. Dewi melaporkan Novel ke polisi dengan tuduhan rekayasa kasus penyiraman air keras.
 
"Ngawur itu," kata Novel saat dikonfirmasi Antara di Jakarta, Kamis, 7 November 2019.
 
Menurut Novel, tudingan yang dilontarkan Dewi justru mempermalukan dirinya sendiri. Dewi mencurigai Novel yang tak memiliki bekas luka bakar di kulit wajahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kata-kata orang itu jelas menghina lima rumah sakit, tiga rumah sakit di Indonesia dan dua rumah sakit di Singapura," jelas Novel.
 
Senada, kuasa hukum Novel, Muhammad Isnur, mengatakan aksi Dewi di luar nalar
dan batas kemanusiaan. Tindakan itu sudah mengarah pada fitnah.
 
Penyerangan mengakibatkan Novel mengalami kebutaan. Penyerangan telah terbukti sebagai fakta hukum yang diverifikasi melalui pemeriksaan medis maupun penyidikan polisi.
 
Dia menjelaskan kasus ini juga diselidiki Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Selain itu, Presiden Joko Widodo memerintahkan polisi secepatnya menuntaskan kasus yang sudah 2,5 tahun tak menemui titik terang.
 
"Secara tidak langsung pelapor sebenarnya telah menuduh bahwa kepolisian, Komnas HAM, termasuk Presiden Jokowi tidak bekerja berdasarkan fakta hukum benar. Oleh karena itu, semestinya kepolisian tidak memproses laporan ini lebih lanjut," tambah Isnur.
 
Isnur menilai laporan ini bentuk kriminalisasi seperti halnya serangan yang selama ini diterima Novel di media sosial dari pendengung (buzzer). Dia menduga laporan ingin menggiring opini publik untuk mengaburkan dukungan penuntasan kasus Novel.
 
Sementara itu, laporan Dewi tercatat dengan Nomor LP/7171/XI/2019/PMJ/Dit Krimsus. Laporan yang disampaikan Rabu, 6 November 2019, didasari pengetahuan seni Dewi terkait pertunjukkan drama.
 
Dia melihat Novel hanya bermain drama. Jika disiram air keras, Novel tidak akan bisa tetap tegak berdiri. Jika memang merasa sakit, lanjut Dewi, Novel pasti akan berguling-guling kesakitan di jalan dalam rekaman kamera CCTV.
 
"Saya orang seni, saya juga biasa beradegan," sindir Dewi.
 
Dewi yakin seluruh rangkaian peristiwa kasus Novel yang selama ini telah dipublikasikan tidak masuk akal. Bahkan, dia menilai luka pada mata Novel palsu.
 
Kejanggalan lain yang dinilai Dewi adalah luka yang diterima Novel terlalu kecil untuk sebuah siraman dengan air keras. "Yang lucunya kenapa hanya matanya sedangkan kelopaknya, ininya (menunjuk mata) semua tidak (rusak)," tutur Dewi.
 
Dewi melaporkan Novel dengan membawa bukti rekaman saat penyidik senior KPK itu berobat di Singapura. Selain itu, dia juga membawa beberapa foto luka Novel yang dinilainya tidak masuk logika.
 
Dewi mengadu dengan Pasal 26 ayat (2) juncto Pasal 45 A Ayat (2) Undang-Undang (UU)Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 14 A ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif