Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Dirut GMF AeroAsia Dipanggil KPK

Nasional emirsyah satar tersangka
Sunnaholomi Halakrispen • 29 Januari 2018 11:37
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Iwan Joeniarto. Dia akan diusut dalam perkara dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus SAS dan Rolls-Royce Plc pada PT Garuda Indonesia.
 
"Iwan Joeniarto diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Emirsyah Satar (mantan Dirut PT Garuda Indonesia)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin, 29 Januari 2018.
 
Selain Iwan, KPK juga memanggil pegawai PT Garuda Indonesia Victor Agung Prabowo sebagai saksi. Dia juga diperiksa untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Emirsyah Satar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Emirsyah Satar dan Presiden Komisaris PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo sebagai tersangka. KPK pun sedang menggali informasi keuangan PT MRA dan proses pengadaan pesawat dari Airbus SAS dan Rolls-Royce Plc pada PT Garuda Indonesia.
 
Emirsyah Satar diduga menerima suap 1,2 juta euro dan USD180 ribu atau senilai Rp20 miliar serta dalam bentuk barang senilai 2 juta dolar AS yang tersebar di Singapura dan Indonesia. Suap itu diduga berasal dari perusahaan manufaktur terkemuka asal Inggris, Rolls Royce, terkait pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 pada PT Garuda Indonesia Tbk.
 
Suap itu diduga diberikan melalui perantara Soetikno selaku beneficial owner dari Connaught International Pte Ltd yang berlokasi di Singapura. Soektino diketahui adalah presiden komisaris PT MRA, kelompok perusahaan di bidang media dan gaya hidup.
 
Sementara itu, Rolls Royce berdasarkan investigasi Serious Fraud Office (SFO) Inggris sudah dikenai denda sebanyak 671 juta pounsterling (sekitar Rp11 triliun) oleh pengadilan di Inggris. Perusahan itu dianggap melakukan praktik suap di beberapa negara, antara lain Malaysia, Thailand, China, Brazil, Kazakhstan, Azerbaizan, Irak, Anggola.
 
KPK awalnya menerima laporan dari SFO dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) Singapura yang sedang menginvestigasi suap Rolls Royce di beberapa negara. SFO dan CPIB pun mengonfirmasi hal itu ke KPK, termasuk memberikan sejumlah alat bukti.
 
Baca: KPK Periksa Notaris Terkait Korupsi Garuda Indonesia
 
KPK melalui CPIB dan SFO sudah membekukan sejumlah rekening dan menyita aset Emirsyah yang berada di luar negeri. Namun, sampai saat ini KPK belum menahan keduanya meskipun telah ditetapkan sebagai tersangka pada 16 Januari 2017.
 
Emirsyah disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Dia terancam pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.
 
Soetikno Soedarjo diduga sebagai pemberi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Dia terancam pidana paling singkat 1 tahun dan lama 5 tahun ditambah denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp250 juta. (Antara)
 


 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif