Mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan menghadapi sidang putusan hari ini - Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.
Mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan menghadapi sidang putusan hari ini - Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.

Karen Agustiawan Tertekan Jelang Putusan

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Theofilus Ifan Sucipto • 10 Juni 2019 12:07
Jakarta: Sidang putusan kasus korupsi yang menyeret mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan akan digelar Senin, 10 Juni 2019 pukul 13.00 WIB. Jelang sidang, Karen mengaku kondisi jiwanya kurang baik.
 
"Sesehat-sehatnya orang yang ditahan, jiwanya pasti tidak sehat," kata Karen di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 10 Juni 2019.
 
Pantauan Medcom.id, Karen mendapat dukungan dari sejumlah karyawan PT Pertamina di sidang putusan ini. Mereka datang mengenakan seragam kemeja putih bertuliskan #SaveKaren.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karen mengaku dukungan tersebut sangat berarti. Dia merasa tidak sendiri. "Senang bahwa Pertamina hadir di sini melihat kasus ini ujungnya seperti apa," ujar dia.
 
Dia menyerahkan putusan nanti pada Tuhan. Karen juga belum memutuskan bakal mengajukan banding atau tidak.
 
"Kemenangan saya bukan di dunia, kemenangan saya di akhirat," kata dia.
 
(Baca juga:Eks Dirut PT Pertamina Dituntut 15 Tahun Penjara)
 
Sebelumnya, Karen dituntut 15 tahun penjara denda Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan. Dia juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp284 miliar.
 
Karen dinilai terbukti merugikan keuangan negara senilai Rp568 miliar dari hasil korupsi saat menjabat sebagai direktur hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan dirut PT Pertamina periode 2009-2014. Dalam investasi PT Pertamina terkait participating interest (PI) atas lapangan atau Blok BMG Australia di 2009, dia dianggap mengabaikan prosedur investasi yang berlaku di Pertamina.
 
Dalam memutuskan investasi PI, Karen menyetujui PI Blok BMG tanpa adanya uji kelayakan serta tanpa adanya analisa risiko. Investasi ditindaklanjuti dengan penandatanganan sale purchase agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan dari Bagian Legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina. Dia dianggap memperkaya Rock Oil Company (ROC) Australia, pemilik Blok BMG Australia.
 
Jaksa menilai perbuatan Karen melanggar Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif