Mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.
Mantan Direktur Utama PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan. Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto.

Eks Dirut PT Pertamina Dituntut 15 Tahun Penjara

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Theofilus Ifan Sucipto • 24 Mei 2019 11:51
Jakarta: Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan dituntut tahun 15 penjara. Dia diyakini melakukan korupsi dalam investasi Blok Basker Manta Gummy (BMG).
 
"Menyatakan terdakwa Karen Agustiawan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata jaksa penuntut umum TM Pakpahan saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Besar Raya, Kamayoran, Jakarta Pusat, Jumat, 24 Mei 2019.
 
Selain tuntutan penjara, Karen juga didenda sebesar Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan. Dia juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp284 miliar. Jika tidak membayar uang pengganti dalam waktu 1 bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, harta bendanya disita dan dilelang. Apabila harta yang disita tidak mencukupi membayar uang pengganti, Karen dipidana penjara selama 5 tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal yang memberatkan Karen adalah ia dinilai tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi. Perbuatannya dianggap mencederai tata kelola perusahaan yang benar. Jaksa menilai hal yang meringankannya adalah Karen belum pernah dihukum. Selain itu, dia masih memiliki tanggungan keluarga.
 
Karen didakwa merugikan senilai Rp568 miliar dari hasil korupsi saat menjabat sebagai direktur hulu PT Pertamina periode 2008-2009 dan dirut PT Pertamina periode 2009-2014. Dalam investasi PT Pertamina terkait participating interest (PI) atas lapangan atau Blok BMG Australia di 2009, dia dianggap mengabaikan prosedur investasi yang berlaku di Pertamina.
 
Baca: Karen: Kebijakan Koorporasi Tak Bisa Dipidana
 
Dalam memutuskan investasi PI, Karen menyetujui PI Blok BMG tanpa adanya uji kelayakan serta tanpa adanya analisa rosiko. Investasi ditindaklanjuti dengan penandatanganan sale purchase agreement (SPA) tanpa adanya persetujuan dari Bagian Legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina.Dia dianggap memperkaya Rock Oil Company (ROC) Australia, pemilik Blok BMG Australia.
 
Jaksa menilai perbuatan Karen sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif