Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Korporasi Penyalur ABK WNI Terancam Jadi Tersangka

Nasional ABK WNI
Cindy • 20 Mei 2020 20:03
Jakarta: Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bakal menjerat korporasi terkait dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) di Kapal Long Xing 629. Mereka akan dijerat sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO.
 
"Kami mencoba melakukan terobosan hukum. Kami sudah koordinasi dengan ahli TPPO untuk menerapkan Pasal 13 terhadap korporasi perusahaan-perusahaan ini," kata Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Ferdi Sambo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 20 Mei 2020.
 
Menurut dia, ancaman hukuman pidana penjara dan denda dapat diterapkan terhadap pengurus korporasi. Kemudian, pidana denda tiga kali lebih berat ditambahkan untuk korporasi tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Korporasi juga dapat diberi pidana tambahan seperti pencabutan izin usaha, pencabutan status badan hukum, pemecatan pengurus, hingga pelarangan mendirikan korporasi di bidang usaha yang sama. Kekayaan hasil tindak pidana juga bisa dirampas.
 
"Ini dilakukan agar ada efek jera terhadap perusahaan yang memberangkatkan ABK WNI secara ilegal," ujar Ferdi.
 
Hingga saat ini, Dittipidum Bareskrim Polri telah menetapkan tiga tersangka TPPO terhadap 20 ABK WNI di Kapal Long Xing 629. Para tersangka yakni W, J, dan F yang menjadi penyalur tenaga kerja ke kapal berbendera Tiongkok itu.
 
Mereka dijerat Pasal 85 dan atau Pasal 86 huruf c UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan atau Pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO. Mereka terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun.
 
Baca: Tiongkok Jalankan Investigasi Komprehensif Kasus ABK WNI
 
Dugaan perbudakan ABK asal Indonesia bermula dari laporan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia. DFW menyebut ABK Herdianto diduga tewas setelah disiksa. Jenazahnya kemudian dilarung di laut Somalia.
 
"Sebelum meninggal, Herdianto terindikasi mengalami penganiayaan berupa tindakan kekerasan fisik (pukulan dan tendangan dengan menggunakan pipa besi, botol kaca, dan setrum)," kata M Abdi Suhufan dari DFW Indonesia, Minggu, 17 Mei 2020.
 

(OGI)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif