areskrim Polri bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ungkap kasus pencucian uang. Foto:Medcom/Yona
areskrim Polri bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ungkap kasus pencucian uang. Foto:Medcom/Yona

Mahfud MD Menduga Banyak Kasus Pencucian Uang di Indonesia

Nasional polri pencucian uang penembakan polisi aborsi ilegal
Siti Yona Hukmana • 16 September 2021 18:21
Jakarta: Bareskrim Polri bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyita uang senilai Rp531 triliun milik Dianus Pionam (DP), bandar peredaran obat aborsi. Fulus itu hasil pencucian uang dari penjualan 31 obat, salah satunya Cytotec atau obat aborsi.
 
"Mengagetkan, ini memang baru satu orang tapi nilai uangnya besar. Padahal di Indonesia itu yang melakukan kayak begini di berbagai tempat, di laut, di hutan di pertambangan dan berbagai sektor diduga banyak," kata Menteri koordinator bidang politik, hukum, dan keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 16 September 2021. 
 
Mahfud mengatakan pengungkapan ini membuktikan Bareskrim Polri mampu mengungkap kasus hingga tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dia mengaku kerap menerima keluhan terkait TPPU namun tidak ditangkap aparat. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini bisa jadi momentum kepada kita semua untuk melangkah lebih lanjut dan lebih kompak seperti yang dilakukan oleh Polri dan PPATK dalam kasus ini," ujarnya.
 
Mahfud mengapresiasi jajaran Bareskrim Polri dan PPATK yang telah bersinergi dengan baik dan berkolaborasi melakukan joint investigation mengungkap TPPU dari peredaran obat secara ilegal. Menurutnya, pengungkapan TPPU ini bagian dari komitmen pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional khususnya di masa pandemi.
 
"Pemerintah bekerja dengan serius  melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap kegiatan bisnis ilegal yang dapat merugikan masyarakat dan negara, dalam hal ini kasus peredaran obat-obatan ilegal di masyarakat," ucap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu. 
 
Baca: Polisi Sita Uang Tunai Rp531 Miliar dari Bandar Obat Aborsi
 
Mahfud mengatakan pengungkapan ini memberikan dampak positif bagi kesiapan Indonesia dalam menghadapi Mutual Evaluation Review (MER) oleh Financial Action Task Force (FATF) on Money Laundering. Mahfud optimistis Indonesia akan menjadi anggota FATF yang berkedudukan di Paris itu.
 
"Untuk menjadi anggotanya itu salah satu harus punya banyak prestasi di dalam menangani TPPU. Itu bukan syarat satu-satunya,  tapi itu memberi grade sendiri agar kita bisa menjadi anggota penuh. Saat ini kita sedang menambah kredit dan akan terus menambah kredit untuk dapat diterima menjadi anggota FATF," ujar Mahfud.
 
Bareskrim Polri dan PPATK mengusut TPPU terhadap terdakwa Dianus. Polri menemukan sembilan rekening perbankan milik Dianus yang terdapat uang cukup fantastis. 
 
Padahal, Dianus tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak memiliki perusahaan. Polisi memastikan uang itu hasil peredaran obat aborsi yang dilakukan sejak 2011.
 
Dianus mendapati 31 jenis obat-obatan dari luar negeri. Dia menjual dengan keuntungan variatif antara 10-15 persen. Obat itu bukan palsu. Hanya, kejahatan yang dilakukan Dianus membeli obat-obatan dari luar negeri dalam jumlah banyak untuk dijual di Tanah Air.
 
Hasil keuntungan disembunyikan dengan berbagai macam. Antara lain dimasukkan ke dalam rekening, membeli produk asuransi, deposito, obligasi retail Indonesia (ORI) atau instrumen surat berharga negara (SBN), dan menanam saham.
 
Selain uang, polisi juga menyita sejumlah aset Dianus. Seperti mobil sport, dua unit rumah di Pantai Indah Kapuk (PIK), apartemen dan tanah.
 
Warga Pantai Mutiara Blok AD/2 Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara itu ditangkap Polsek Mojokerto pada Maret 2021 atas kasus pengedaran obat aborsi. Kini Dianus tengah menjalani persidangan.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif