Dirut nonaktif Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan pertama sebagai tersangka, Senin, 6 Mei 2019. ANT/Reno Esnir.
Dirut nonaktif Perusahaan Listrik Negara Sofyan Basir tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan pertama sebagai tersangka, Senin, 6 Mei 2019. ANT/Reno Esnir.

Praperadilan Sofyan Basir Digelar Hari Ini

Nasional Korupsi PLTU Riau-1
Cindy • 20 Mei 2019 10:10
Jakarta: Sidang praperadilan tersangka kasus dugaan korupsi kesepakatan kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1 Sofyan Basir digelar hari ini. Gugatan ditujukan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait status penetapan tersangka.
 
"Iya, soal penetapan tersangka Pak Sofyan," kata kuasa hukum Sofyan, Soesilo Aribowo, saat dihubungi Medcom.id, Senin, 20 Mei 2019.
 
Soesilo menyebut Sofyan tak akan menghadiri sidang praperadilan perdana itu. Permohonan praperadilan hanya akan dibacakan kuasa hukum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"(Sofyan) Enggak (hadir)," jawab Soesilo singkat.
 
Permohonan praperadilan tercatat dengan nomor perkara 48/Pid.Pra/2019/PN JKT.SEL. Salah satu permohonan dalam gugatan itu memerintahkan KPK tidak melakukan tindakan hukum apa pun terhadap Sofyan Basir.
 
KPK diminta tidak melakukan pemeriksaan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, dan tidak melimpahkan berkas perkara dari penyidikan ke penuntutan. Itu dilakukan selama pemeriksaan praperadilan sampai adanya putusan pengadilan dalam perkara permohonan praperadilan.
 
Sofyan Basir menganggap penyidikan yang dilakukan KPK terhadap kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 adalah tidak sah dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Berbagai keputusan atau penetapan yang dikeluarkan lebih lanjut oleh KPK yang berkenaan dengan penetapan tersangka, termasuk penyidikan dengan menggunakan alat bukti lama atau dinyatakan bukan alat bukti baru, melainkan diperoleh dari perkara-perkara lain sebelumnya.
 
Baca: Idrus Beberkan Isi Pertemuan dengan Sofyan
 
Keterlibatan Sofyan berawal ketika Direktur PT Samantaka Batubara mengirimi PT PLN (Persero) surat, pada Oktober 2015. Surat pada pokoknya memohon PLN memasukkan proyek dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Sayangnya, surat tersebut tidak ditanggapi. Johannes Budisturisno Kotjo akhirnya mencari bantuan agar dibukakan jalan berkoordinasi dengan PLN untuk mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listnk Tenaga Uap Mulut Tambang Riau-I.
 
Pertemuan diduga dilakukan beberapa kali. Pertemuan membahas proyek PLTU itu dihadiri mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, Sofyan, dan Johannes. Namun, beberapa pertemuan tak selalu dihadiri ketiga orang tersebut.
 
Selanjutnya pada 2016, Sofyan menunjuk Johannes mengerjakan proyek Riau-I. Sebab, mereka sudah memiliki kandidat mengerjakan PLTU di Jawa.
 
Padahal, saat itu Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan (PIK) belum terbit. PLTU Riau-I dengan kapasitas 2x300 MW kemudian diketahui masuk Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Johannes meminta anak buahnya siap-siap karena sudah dipastikan Riau-I milik PT Samantaka. Sofyan lalu memerintahkan salah satu Direktur PT PLN merealisasikan PPA antara PLN dengan BNR dan CHEC.
 
Sofyan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersangka merupakan pengembangan penyidikan Eni, Johannes, dan Idrus Marham yang telah divonis. Eni dihukum enam tahun penjara, Johannes Kotjo 4,5 tahun penjara, dan Idrus Marham 3 tahun penjara.
 
Sofyan dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dlubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif