Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet. (Foto: Medcom.id/Ilham Pratama)
Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet. (Foto: Medcom.id/Ilham Pratama)

Ratna Sarumpaet Sebut Ahli dari Jaksa Ngawur

Nasional Kabar Ratna Dianiaya
Ilham Pratama Putra • 25 April 2019 14:47
Jakarta: Sejumlah ahli dihadirkan dalam sidang lanjutan terdakwa penyebar berita bohong Ratna Sarumpaet. Ratna menganggap ahli bahasa, Dosen Sastra Universitas Nasional Wahyu Wibowo tak kompeten.
 
"Kalau yang (ahli) bahasa agak ngawur. Saya malah ragu dia ahli bahasa apa bukan. Karena dia selalu berputar-putar dari konteks. Dia bahkan megabaikan kamus besar," kata Ratna di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 25 April 2019.
 
Baca juga:Ratna Sarumpaet Kirim Foto Wajah Lebam Pertama ke Fadli Zon

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bagi Wahyu, suatu informasi yang disebarkan melalui media apa pun dapat menimbulkan respons. Keonaran juga termasuk respons yang ditimbulkan dari suatu informasi.
 
"Dalam konteks tersebut, keributan tidak harus keributan secara fisik, onar bisa membuat gaduh, orang yang heran bertanya-tanya itu juga onar. Keributan di media sosial juga dikategorikan (membuat onar) karena media sosial itu wakil dari lisan," beber Wahyu.
 
Ahli digital forensik Saji Purwanto pun dikritisi. Saji yang membedah isi pesan WhatsApp-nya di persidangan juga dianggap tidak penting.
 
"Saya juga enggak tau kenapa dia ada di sini. Menurut saya enggak perlu banget," ketus Ratna.
 
Saji membedah percakapan WhatsApp Ratna yang dikirimkan ke sejumlah tokoh. Saji memperlihatkan Ratna telah membagikan foto muka lebamnya dengan maksud mencari pembenaran dari kebohongan yang dibuat.
 
Kasus hoaks Ratna bermula dari foto lebam wajahnya yang beredar di media sosial. Sejumlah tokoh mengatakan Ratna dipukuli orang tak di kenal di Bandung, Jawa Barat. Ratna kemudian mengakui kabar itu tak benar. Mukanya lebam karena menjalani operasi plastik.
 
Ratna ditahan setelah ditangkap di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 4 Oktober 2018 malam. Saat itu, Ratna hendak terbang ke Chile.
 
Akibat perbuatannya, Ratna didakwa melanggar Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif