Terdakwa Fahmi Darmawansyah (kiri) didampingi istrinya artis Inneke Koesherawati seusai vonis di Gedung Pengadilan Tipikor, Bungur, Jakarta Pusat. MI/Susanto
Terdakwa Fahmi Darmawansyah (kiri) didampingi istrinya artis Inneke Koesherawati seusai vonis di Gedung Pengadilan Tipikor, Bungur, Jakarta Pusat. MI/Susanto

Terjerat Kasus Bakamla, Suami Inneke Koesherawati Kapok

Fachri Audhia Hafiez • 24 Maret 2022 21:07
Jakarta: Direktur PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah mengaku kapok terjerat kasus dugaan korupsi proyek pengadaan monitoring satelit dan drone di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Suami dari aktris Inneke Koesherawati itu bakal berhati-hati lagi dalam menggarap proyek.
 
"Sangat kapok," kata Fahmi saat persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 24 Maret 2022.
 
Menurut Fahmi, kasus rasuah ini berdampak kepada keluarganya. Selain itu, PT Merial Esa ikut terseret dan menjadi terdakwa korporasi dalam perkara ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Merial Esa rugi atas namanya saja," ujar Fahmi.
 
Fahmi mengatakan kerja sama dengan perusahaan asal Jepang menjadi terhalang akibat kasus tersebut. Perusahaan asal Jepang itu tak melanjutkan kerja sama karena khawatir.
 
"Takut ada apa-apa dari aspek hukumnya kan seperti itu," ucap Fahmi.
 
Dia mengeklaim tak tahu uang pemberian kepada sejumlah pihak dilarang secara hukum. Meskipun fulus itu diberikan secara sukarela.
 
"Saya enggak ngerti hukum, saya dikasih tahu (oleh penyidik KPK) kalau pejabat negara harus begini dan begini," kata Fahmi.
 
Baca: Fahmi Mempermasalahkan Uang Sitaan Dipindahkan KPK Tanpa Izin
 
PT Merial Esa didakwa memberi suap kepada sejumlah pihak terkait mengupayakan proyek pengadaan monitoring satelit dan drone di Bakamla. Korporasi tersebut diwakili Fahmi Darmawansyah selaku Direktur PT Merial Esa dan duduk sebagai terdakwa.
 
Nilai uang yang mengalir bervariasi. Eks anggota Komisi I Fayakhun Andriadi menerima USD911.480; narasumber bidang perencanaan dan anggaran Bakamla Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi menerima Rp64 miliar; dan kuasa pengguna anggaran (KPA) Satuan Kerja Bakamla Tahun Anggaran 2016, Eko Susilo Hadi, mengantongi SGD100 ribu, USD88.500, dan €10.000.
 
Uang juga mengalir kepada pejabat pembuat komitmen (PPK) Kegiatan Peningkatan Pengelolaan Informasi Hukum dan Kerja Sama Keamanan dan Keselamatan Laut di lingkungan Bakamla TA 2016, Bambang Udoyo, sebesar SGD105.000; Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi di Bakamla, Nofel Hasan, sebesar SGD104.500; dan Kasubag TU Sestama Bakamla, Tri Nanda Wicaksono, senilai Rp120 juta.
 
Pemberian uang itu dilakukan karena Fayakhun dan Ali Fahmi telah mengupayakan alokasi penambahan anggaran Bakamla untuk proyek pengadaan monitoring satelit dan drone dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016. Sementara itu, pemberian fulus kepada Eko Susilo Hadi, Bambang Udoyo, Nofel Hasan, dan Tri Nanda Wicaksono dilakukan karena telah memenangkan perusahaan PT Melati Technofo Indonesia yang terafiliasi oleh Fahmi.
 
PT Merial Esa didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif