Sidang Yaya Purnomo - Medcom.id/Damar Iradat.
Sidang Yaya Purnomo - Medcom.id/Damar Iradat.

Auditor BPK Minta Tak Dilibatkan Dalam Kasus Yaya Purnomo

Nasional kasus suap
Damar Iradat • 03 Januari 2019 18:55
Jakarta: Kepala Sub-Auditorat Kalimantan Timur I Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Kalimantan Timur, Fitra Infitar meminta agar mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Balikpapan Tara Allorante tidak menyeretnya dalam kasus penerimaan gratifikasi pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Insentif Daerah (DID). Padahal, Fitra merupakan perantara suap kepada Yaya Purnomo, terdakwa dalam perkara ini.
 
Hal ini diketahui saat jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) milik Tara. Dalam keterangannya kepada penyidik, Tara mengaku, diminta Fitra tutup mulut.
 
“Dalam BAP nomor 3, saudara saksi mengatakan: Pertemuan awal Juni 2018 kami ketemu di hotel, saya sampaikan, kami mulai dipanggil oleh KPK, saudara Fitra mengatakan agar saya tidak melibatkan namanya saat diperiksa KPK yang menyarankan saya komunikasi dengan Yaya," kata Jaksa saat membacakan BAP milik Tara di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 3 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tara membenarkan keterangannya. Hakim lantas mengonfirmasi ulang keterangan Tara.
 
“Anda serahkan uang Rp1,36 miliar ke Fitra karena (Kota Balikpapan) dapat DID dapat Rp26 miliar bukan?” tanya Hakim.
 
"Benar, Yang Mulia," jawab Tara.
 
(Baca juga: Eks Pejabat Kemenkeu Instruksikan Suap Lewat ATM)
 
Tara sebelumnya mengaku menyerahkan uang sebesar Rp1,36 miliar kepada Yaya Purnomo selaku mantan Kepala Seksi Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan dan Pemukiman pada Ditjen Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan. Uang itu diserahkan dengan modus pemberian dua buku tabungan dan kartu ATM beserta nomor identifikasi personal (personal identification number/PIN) kepada Yaya.
 
Buku tabungan dan kartu ATM itu kemudian diserahkan kepada Fitra untuk diteruskan kepada Yaya. Menurut Tara, seharusnya, barang bukti buku tabungan dan kartu ATM itu seharusnya langsung dimusnahkan oleh Yaya setelah menyelesaikan transaksi.
 
Namun, saat Yaya ditangkap oleh KPK, penyidik yang menggeledah kediaman Yaya di Bekasi menemukan buku tabungan dan kartu ATM atas nama Pahala Simamora dan Sumiyati yang berisi saldo masing-masing Rp680 juta.
 
Mantan Kasi Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan dan Pemukiman, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan, Yaya Purnomo bersama rekan kerjanya, Rifa Surya didakwa menerima gratifikasi senilai Rp3,745 miliar. Keduanya juga menerima SGD325.000 dan USD53.200.
 
Dalam perkara ini Yaya didakwa melanggar Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 65 ayat 1 KUHP.
 

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif