Ilustrasi: Polisi mengatur barang bukti narkoba jenis sabu serta sejumlah tersangka saat gelar sejumlah kasus penyalahgunaan narkoba di halaman Mapolda Jawa Timur. Foto: Antara/Zabur Karuru
Ilustrasi: Polisi mengatur barang bukti narkoba jenis sabu serta sejumlah tersangka saat gelar sejumlah kasus penyalahgunaan narkoba di halaman Mapolda Jawa Timur. Foto: Antara/Zabur Karuru

KY Diminta Selidiki Putusan Bebas Bandar Sabu

Nasional vonis hakim sabu pemberantasan narkoba
13 Februari 2019 13:48
Jakarta: Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendesak Komisi Yudisial (KY) dan Badan Pengawasan (Bawas) Mahkamah Agung (MA) proaktif menyelidiki putusan bebas Pengadilan Negeri Makassar terhadap Syamsul Rijal. Syamsul adalah terdakwa bandar sabu seberat 3,4 kilogram.
 
Sahroni mengatakan putusan bebas yang dijatuhkan oleh hakim PN Makassar menjadi anomali dan mencederai semangat pemberantasan narkotika yang sejak awal diusung pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Terlebih, Ketua MA Hatta Ali telah menekankan jajarannya bahwa narkoba merupakan kasus prioritas.
 
“Informasi yang saya terima, baik Polri maupun kejaksaan telah memberikan bukti lengkap mengenai jaringan sabu 3,4 kilogram tersebut. Namun, kenapa hakim akhirnya menjatuhkan vonis bebas. Ini tak sesuai dengan ketegasan pemerintah atas pemberantasan narkoba,” kata Sahroni, Rabu, 13 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sahroni mendorong KY menyelidiki ada tidaknya hakim yang bermain atas putusan tersebut. Tujuannya, kata dia, agar masyarakat mengerti apakah vonis bebas itu karena sesuatu hal atau memang putusan dikarenakan bukti dan dakwaan yang lemah.
 
“KY dan Bawas MA harus memastikan tidak ada hakim yang bermain dalam kasus ini,” jelasnya.
 
Selain KY, politisi NasDem yang kembali menjadi Caleg dari Dapil Jakarta III ini juga meminta pimpinan Polri dan kejaksaan untuk melakukan penyelidikan internal.
 
Baca: PN Makassar Vonis Bebas Bandar Sabu
 
Syamsul Rijal alias Kijang ditangkap di perbatasan Indonesia-Malaysia pada September 2018. Ia menjadi buronan sejak April 2016 usai penangkapan empat tersangka yakni Brigpol Supardi, Edy Wilow, Haris, dan Brigpol Eddy Chandra yang keseluruhannya telah divonis 16 tahun penjara.
 
Barang bukti sabu seberat 3,4 kilogram milik jaringan ini diperoleh jajaran Polres Pinrang pada 7 April 2016 di rumah orang tua Supardi di Kampung Kanni, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang.
 
Syamsul Rijal yang tercatat sebagai warga jalan Bintang, Kelurahan Pacongan, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, juga disebut sebagai bandar besar yang terkait dengan jaringan Hendra (kasus 5 kilogram sabu) dan Cullang, tersangka yang telah ditembak mati oleh polisi .
 
Setelah diteliti jaksa, pada Kamis, 11 Oktober 2018, berkas perkara pria berusia 32 tahun tersebut masuk ke pengadilan dengan Nomor Perkara 1434/Pid.Sus/2018/PN Mks. dengan jaksa penuntut umum (JPU) Andi Hariani Gali. Syamsul Rijal kemudian dituntut enam tahun penjara dikurangi masa tahanan selama terdakwa ditahan dan denda Rp1 miliar subsider dua bulan penjara.
 
Pada Selasa, 8 Januari 2019, majelis hakim yang terdiri atas Mona Rika Pandegirot, Cenning Budiana, dan Aris Gunawan menjatuhkan vonis bebas terhadap Syamsul. Putusan ini ditanggapi JPU dengan pengajuan kasasi ke MA, Senin 21 Januari.
 
Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Makassar, Ulfadrian, memastikan bukti yang diajukan ke pengadilan sama dengan yang diserahkan oleh kepolisian. Dirinya mengamini pengajuan permohonan kasasi ke Kejaksaan Tinggi pascaputusan tersebut.
 


 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif