Ilustrasi/Medcom.id.
Ilustrasi/Medcom.id.

PN Makassar Vonis Bebas Bandar Sabu

Nasional vonis hakim sabu pemberantasan narkoba
Lina Herlina • 12 Februari 2019 20:11
Makassar: Hakim Pengadilan Negeri Makassar, Rika Mona Pandegirot, memvonis bebas gembong narkoba, asal Kabupaten Pinrang, bernama Syamsul Rizal alias La Kijang, 32, pada 8 Januari lalu. Vonis bebas itu diketahui dari situs resmi Pengadilan Negeri Makassar, yang dipublis Senin, 11 Februari dengan nomor perkara 434/Pid.Sus/2018/PN Mks.
 
Dalam putusan disebutkan, Kijang tidak terbukti secara sah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan pertama, kedua dan ketiga. Dalam putusan itu juga membebaskan terdakwa dari semua dakwaan, dan memerintahkan agar terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan.
 
Bahkan dalam putusan juga disebutkan, agar memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya. Pengadilan juga membebankan biaya perkara kepada Negara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, Kijang dibekuk tim Narkoba Polda Sulsel di Sungai Nyamuk, Desa Bambanga, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, 28 Mei 2018. Kijang sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO ) Polres Pinrang sejak April 2016 lalu atas kepemilikan sabu. Penangkapan Kijang bermula dari adanya informasi bahwa ia sedang dalam perjalanan menggunakan Speedboat dari perbatasan Philipina menuju Sungai Nyamuk.
 
Kijang adalah bandar besar dari jaringan Cullang, bandar narkotika beromzet Rp1,2 triliun yang ditembak mati di wilayah Pasangkayu, Sulawesi Barat.
 
Setelah Cullang ditembak mati Agustus 2017 dan sebelum Kijang ditangkap, Polda Sulsel juga menangkap rekan Cullang dan Kijang di Kota Medan dengan barang bukti sabu 5 kilogram.
 
Karena putusan bebas terhadap kasus tersebut, jaksa dalam kasus tersebut, Andi Herani Gali mengaku sudah memasukkan memori kasasi tiga minggu setelah vonis dijatuhkan hakim.
 
"Jadi dua minggu setelah sidang, kita sudah bilang ajukan kasasi, lalu seminggu kemudian, kami masukkan memori kasisinya," sebut Herani.
 
Herani menyebut, kasasi diajukan lantaran Kijang dinilai melakukan tindak pidana, melakukan permufakatan jahat, menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman.
 
Perbuatan terdakwa dinyatakan melanggar sebagaimana diatur dala pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika dalam dakwaan pertama.
 
Bahkan pada sidang tuntutan 13 Desember 2018, Jaksa menuntut Kijang yang dengan pidana penjara selama enam tahun penjara dikurangi selam terdakwa ditahan dan denda sebesar Rp1 miliar, subsider dua bulan penjara.
 
"Jadi kita tunggu putusan dari sidang kasasinya," pungkas Herani.
 
Segendang sepenarian, Kabid Brantas BNNP Sulsel AKBP Ustim Pangarian, vonis bebas hakim dinilai tidak wajar, apalagi penetapan terdakwa itu sudah melalui dua tahapan, dari kepolisian dan kejaksaan.
 
"Tapi kami juga tidak tahu alasan dan perimbangan hakim memberi hukuman bebas, padahal harusnya ia bisa diberi efek jera, ditengah negara ini sedang gencar-gencarnya memberantas narkoba," tandas Ustim.
 

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif