Mohammad Rum. Foto: MI/Golda Eksa.
Mohammad Rum. Foto: MI/Golda Eksa.

Kejaksaan Tahan Eks Direktur Keuangan Pertamina

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Golda Eksa • 30 Agustus 2018 20:42
Jakarta: Tim penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi (JAM Pidsus) menahan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Frederik ST Siahaan ke Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung, Jakarta. Frederik diduga terlibat kasus penyalahgunaan investasi PT Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia Tahun 2009.
 
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Mohammad Rum, mengatakan keputusan itu merujuk surat perintah penahanan Direktur Penyidikan JAM Pidsus Nomor: Print -20/F.2/Fd.1/08/2018.
 
"Penyidik melakukan penahanan dengan pertimbangan objektif, yakni tersangka telah diancam pidana penjara lebih dari 5 tahun," ujar Rum kepada wartawan, Kamis, 30 Agustus 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tersangka dikhawatirkan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti, dan mengulangi tindak pidananya. Berdasarkan hasil penghitungan akuntan publik kerugian negara diperkirakan mencapai Rp568 miliar.
 
Frederik dijerat Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP. Dalam kasus tersebut tim penyidik sudah melakukan pemeriksaan terhadap 69 saksi.
 
Baca: Mantan Dirut Pertamina Dicekal
 

Selain Frederik, Korps Adhyaksa pun telah menetapkan status serupa kepada mantan Dirut PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan, Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina Genades Panjaitan, dan mantan Manager M&A Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto.
 
"Dalam pelaksanaanya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi, yakni tanpa adanya feasibility study (kajian kelayakan) secara lengkap atau final due dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari dewan komisaris," ujar Rum.
 
Walhasil, sambung dia, kasus itu menyebabkan peruntukan dan penggunaan dana US$31,492,851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah AU$ 26,808,244 tidak memberikan manfaat atau keuntungan kepada PT Pertamina, khususnya dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional.
 
Kasus bermula pada 2009 ketika Pertamina melakukan kegiatan akuisisi (investasi nonrutin) berupa pembelian sebagian aset milik ROC Oil Company Ltd di lapangan BMG Australia. "Kegiatan itu berdasar agreement for sale and purchase - BMG Project tanggal 27 Mei 2009 senilai US$31,917,228."
 
Namun, dalam pelaksanaannya justru ditemui dugaan penyimpangan terkait pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi, yakni tanpa kajian kelayakan (feasibility study) berupa kajian secara lengkap (final due dilligence) serta tanpa adanya persetujuan dari dewan komisaris.
 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif