Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono. Medcom.id/Siti Yona
Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono. Medcom.id/Siti Yona

Polri Menilai Simpulan Komnas HAM Soal Pendeta Yeremia Prematur

Nasional papua komnas ham kelompok sipil bersenjata kelompok bersenjata di papua
Kautsar Widya Prabowo • 04 November 2020 08:23
Jakarta: Polri membantah investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terkait kematian Pendeta Yeremia Zanambani di Pegunungan Intan Jaya, Papua. Komnas HAM menduga Yeremia dianiaya sebelum ditembak.
 
"Kalau kita sudah mengatakan ini, meninggalnya yang bersangkutan bukan karena tembakan, karena penganiayaan, itu sangat prematur," ujar Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Awi Setiyono di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 3 November 2020.
 
Polisi enggan menangapi investigasi tersebut. Awi menyebut penyidik tengah fokus mendalami hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). Salah satunya untuk mengetahui secara pasti kronologis adanya 13 lubang diduga bekas peluru di sekitar jasad korban.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Terkait dengan temuan Komnas HAM, silakan rekan-rekan (media) klarifikasi langsung kepada yang bersangkutan. Apalagi, mereka sudah menunjuk pelakunya," tutur Awi.
 
Dia menegaskan penyebab pasti tewasnya Yeremia akan terungkap bedasarkan hasil autopsi tim medis. Polisi siap memfasilitasi autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Sulawesi Selatan.
 
"Nanti dari situ (autopsi) kita akan tahu akibat kematiannya almarhum itu gara-gara apa, tentunya dari situ nanti akan kita masukkan dalam berkas perkara," ujar dia.
 
Sebelumnya, Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam menyebut hasil investigasi menemukan Pendeta Yeremia Zanambani sempat mendapat tindak kekerasan. Yeremia diduga dipukul dan ditembak Wakil Komandan Koramil Hitadipa, Alpius Hasim Madi.
 
(Baca: Pendeta Yeremia Diduga Mengalami Tindak Kekerasan Sebelum Ditembak)
 
"Pendeta Yeremia diduga sudah menjadi target atau dicari oleh terduga pelaku (Alpius), mengalami penyiksaan dan/atau tindakan kekerasan lainnya untuk memaksa keterangan dan/atau pengakuan dari korban," kata Choirul dalam konferensi pers daring, Senin, 2 November 2020.
 
Choirul mengungkapkan peristiwa bermula dari penembakan Serka Sahlan dan perampasan senjata oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat/Organisasi Papua Merdeka (TPNPB/OPM). Peristiwa itu mendorong Alpius menyisir untuk mencari anggota TPNPB/OPM dan senjata yang dirampas.
 
Alpius terlihat menuju kandang babi, tempat Yeremia berada bersama anggota. Yeremia diduga disiksa.
 
Penembakan terhadap Yeremia dilakukan dari jarak dekat. Berdasarkan penghitungan, diperkirakan jarak tembak berkisar 9-10 meter dari luar kandang dan diarahkan ke tempat kejadian perkara (TKP) maupun sekitar TKP.
 
"Tidak hanya tembakan jarak dekat, tapi (ada) kontak fisik jarak pendek. Karena ada luka berbentuk bulat pada leher bagian belakang dan pemaksaan agar korban berlutut terlihat ada abu tungku di lutut Yeremia," ujar Choirul.
 
Tembakan itu mengenai lengan kiri Yeremia yang mengakibatkan tulang lengannya pecah. Sehingga, menimbulkan luka simetris. Komnas HAM juga menduga luka di lengan akibat sayatan senjata tajam.
 
Choirul menyebut kematian korban bukan disebabkan luka di lengan kiri atau luka tindak kekerasan lainnya. Hal itu terlihat dari luka pada tubuh korban bukan pada titik mematikan.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif