Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam (kiri) Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam (kiri) Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Pendeta Yeremia Diduga Mengalami Tindak Kekerasan Sebelum Ditembak

Nasional tni komnas ham kelompok bersenjata di papua
Siti Yona Hukmana • 02 November 2020 16:07
Jakarta: Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam menyebut hasil investigasi menemukan Pendeta Yeremia Zanambani sempat mendapat tindak kekerasan. Yeremia diduga dipukul dan ditembak Wakil Komandan Koramil Hitadipa, Alpius Hasim Madi.
 
"Pendeta Yeremia diduga sudah menjadi target atau dicari oleh terduga pelaku (Alpius), mengalami penyiksaan dan/atau tindakan kekerasan lainnya untuk memaksa keterangan dan/atau pengakuan dari korban," kata Choirul dalam konferensi pers daring, Senin, 2 November 2020.
 
Choirul mengungkapkan peristiwa bermula dari penembakan Serka Sahlan dan perampasan senjata oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat/Organisasi Papua Merdeka (TPNPB/OPM). Peristiwa itu mendorong Alpius menyisir untuk mencari anggota TPNPB/OPM dan senjata yang dirampas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Warga Hitadipa dikumpulkan dua kali sekitar pukul 10.00 WIT dan 12.00 WIT pada September 2020. Warga diminta mengembalikan senjata dalam kurun waktu dua hingga tiga hari.
 
Dalam pengumpulan massa itu, nama Pendeta Yeremia Zanambani dan lima orang lainnya disebut-sebut. Mereka dicap sebagai musuh salah satu anggota Koramil di Distrik Hitadipa.
 
"Penyisiran Alpius dan pasukannya juga dilihat oleh warga sekitar, termasuk di antaranya istri korban almarhum (Pendeta Yeremia) Mama Miryam Zoani," ujar Choirul.
 
Alpius terlihat menuju kandang babi, tempat Yeremia berada bersama anggota. Yeremia diduga disiksa.
 
Penembakan terhadap Yeremia dilakukan dari jarak dekat. Berdasarkan penghitungan, diperkirakan jarak tembak berkisar 9-10 meter dari luar kandang dan diarahkan ke tempat kejadian perkara (TKP) maupun sekitar TKP.
 
(Baca: Komnas HAM: Penembak Pendeta Yeremia Diduga Anggota Koramil, Alpius)
 
"Tidak hanya tembakan jarak dekat, tapi (ada) kontak fisik jarak pendek. Karena ada luka berbentuk bulat pada leher bagian belakang dan pemaksaan agar korban berlutut terlihat ada abu tungku di lutut Yeremia," ujar Choirul.
 
Tembakan itu mengenai lengan kiri Yeremia yang mengakibatkan tulang lengannya pecah. Sehingga, menimbulkan luka simetris. Komnas HAM juga menduga luka di lengan akibat sayatan senjata tajam.
 
Choirul menyebut kematian korban bukan disebabkan luka di lengan kiri atau luka tindak kekerasan lainnya. Hal itu terlihat dari luka pada tubuh korban bukan pada titik mematikan.
 
Yeremia masih hidup lebih kurang 5-6 jam pascaditemukan istri, Miryam Zoani. "Menurut ahli, penyebab kematian korban karena kehabisan darah," tutur Choirul.
 
Komnas HAM mendapati 19 lubang tembakan dan 14 titik tembak di lokasi kejadian pada olah TKP. Bahkan ditemukan bekas pencongkelan proyektil dari sebuah balok kayu usai penembakan.
 
Belum diketahui keberadaan proyektil tersebut. Kepolisian mengaku kepada Komnas HAM jajaran hanya memungut proyektil di sekitar tungku.
 
Komnas HAM menduga kuat ada unsur kesengajaan arah tembakan yang acak dan tidak mengarah pada sasaran untuk mengaburkan penembakan yang sebenarnya. Choirul menduga ada dua pelaku, yakni pelaku langsung Alpius dan pemberi perintah pencarian senjata yang hilang atau pencarian keberadaan kelompok bersenjata sebagai pelaku tidak langsung.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif