Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam (kiri) Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam (kiri) Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Komnas HAM: Penembak Pendeta Yeremia Diduga Anggota Koramil, Alpius

Nasional tni komnas ham kelompok bersenjata di papua
Siti Yona Hukmana • 02 November 2020 14:07
Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) selesai menginvestigasi dan merekonstruksi penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Intan Jaya, Papua. Komnas HAM mengidentifikasi terduga pelaku penembakan.
 
"Diduga kuat pelakunya adalah anggota TNI personel Koramil, Alpius Hasim Madi," kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Mohammad Choirul Anam dalam konferensi pers daring, Senin, 2 November 2020.
 
Choirul mengungkapkan rangkaian peristiwa sebelum  kematian Pendeta Yeremia Zanambani pada 17-19 September 2020. Dia menyebut penembakan dan kematian Serka Sahlan serta perebutan senjata oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat/Organisasi Papua Merdeka (TPNPB/OPM) mendorong penyisiran dan pencarian senjata yang dirampas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Warga Hitadipa dikumpulkan dua kali sekitar pukul 10.00 WIT dan 12.00 WIT. Warga diminta segera mengembalikan senjata dalam kurun waktu dua hingga tiga hari.
 
Dalam pengumpulan massa itu, nama Pendeta Yeremia Zanambani disebut-sebut beserta lima nama lainnya. Mereka dicap sebagai musuh salah satu anggota Koramil di Distrik Hitadipa.
 
Kemudian, sekitar pukul 13.10 WIT, terjadi penembakan terhadap salah seorang anggota Satgas Apter Koramil di Pos Koramil Persiapan Hitadipa, Pratu Dwi Akbar Utomo. Pratu Dwi Akbar dinyatakan meninggal pada pukul 16.45 WIT setelah dievakuasi ke RSUD Kabupaten Intan Jaya. Penembakan Pratu Dwi Akbar juga memicu rentetan tembakan hingga sekitar pukul 15.00 WIT.
 
(Baca: TNI Pastikan Tak Menutupi Oknum Penembakan Pendeta di Intan Jaya)
 
Alpius Hasim Madi diduga melakukan operasi penyisiran untuk mencari senjata api yang dirampas. "Penyisiran Alpius dan pasukannya juga dilihat oleh warga sekitar, termasuk di antaranya istri korban almarhum (Pendeta Yeremia) Mama Miryam Zoani," ujar Choirul.
 
Choirul menyebut Alpius terlihat menuju ke kandang babi sekitar waktu penembakan Pendeta Yeremia. Di saat bersamaan, terdapat pembakaran rumah dinas kesehatan Hitadipa. Rumah dinas kesehatan ini diduga sebagai asal tembakan terhadap Pratu Dwi Akbar atau lokasi persembunyian TPNPB/OPM. Setidaknya dua saksi melihat api dan asap, serta sisa bara api dari lokasi kebakaran.
 
"Sekitar pukul 17.50 WIT, korban (Pendeta Yeremia) ditemukan istri korban di dalam kandang babi dengan posisi telungkup dan banyak darah di sekitar tubuh korban. Di lengan kiri korban terdapat luka terbuka dan mengeluarkan darah," ungkap Choirul.
 
Choirul memastikan penyebab kematian korban bukan akibat luka di lengan kiri ataupun luka yang disebabkan tindak kekerasan lainnya. Berdasarkan keterangan ahli, penyebab kematian korban karena kehabisan darah.
 
Hal itu terlihat dari luka pada tubuh korban yang bukan di titik mematikan. Choirul mengatakan Pendeta Yeremia masih hidup lebih kurang 5-6 jam pascaditemukan.
 
"Komnas HAM juga meyakini potensi sayatan benda tajam lainnya pada lengan kiri korban. Diduga kuat adanya penyiksaan dan atau tindakan kekerasan lainnya dilakukan terduga pelaku yang bertujuan meminta keterangan atau pengakuan dari korban, bisa soal senjata yang hilang atau keberadaan TPNPB/OPM," tutur Choirul.
 
Komnas HAM membuat tim untuk menyelidiki penembakan yang menimpa masyarakat sipil di Intan Jaya, Papua, salah satunya Pendeta Yeremia. Tim telah menyusun seluruh temuan, merekonstruksi peristiwa dengan olah tempat kejadian perkara (TKP), sudut, lubang, dan jarak tembak, mengindetifikasi karakter tembakan, memeriksa saksi-saksi, dan menguji keterangan ahli.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif