Jubir bidang penindakan KPK Ali Fikri/Medcom.id/Candra
Jubir bidang penindakan KPK Ali Fikri/Medcom.id/Candra

Pencarian Ricky Ham Pagawak Disebut Lebih Menggiurkan Ketimbang Harun Masiku

Candra Yuri Nuralam • 16 Januari 2023 20:38
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai pencarian Bupati Mamberamo Tengah Ricky Ham Pagawak lebih menggiurkan ketimbang mencari mantan calon legislatif (caleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Harun Masiku. Karena, Lembaga Antirasuah butuh keterangan Ricky untuk membeberkan asetnya dalam dugaan pencucian uang.
 
"Justru lebih besar misalnya Ricky Ham Pagawak. Nah itu kan nilainya cukup besar, bahkan kemudian, saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka TPPU (tindak pidana pencucian uang)," kata juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, 16 Januari 2023.
 
Pernyataan itu tidak mengartikan pencarian Harun tidak penting. Semua buronan tetap dikejar KPK untuk diseret ke meja hijau.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terkait hal ini, KPK butuh keterangan Ricky untuk memaksimalkan perampasan aset dari kasus pencucian uang. Tujuannya, untuk mengembalikan kerugian negara dengan maksimal.
 

Baca: Komando Presiden Dinilai Tak Diperlukan Terkait Kasus Harun Masiku


"Artinya memang keseriusan untuk menangani perkara itu terus kami lakukan penyelesaiannya," tegas Ali.
 
Pihaknya masih memanfaatkan semua koneksinya untuk mencari seluruh buronannya. Termasuk, Harun Masiku yang terdeteksi di luar negeri.
 
"Yang pasti bahwa KPK tidak sendiri ketika melakukan pencarian, kami koordinasi dengan pihak imigrasi, dengan pihak bareskrim, dengan otoritas negara lain terus kami lakukan," ucap Ali.
 
Namun, dia enggan membeberkan lokasi pasti Harun. Karena, KPK khawatir buronan itu kabur jika terlalu banyak memberikan informasi ke publik.
 
"Ya sekali lagi kalau teknis pencariannya, itu kan bagian dari teknis pencarian," ujar Ali.
 
Harun Masiku terseret kasus tangkap tangan mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan. Dia diduga mengupayakan pergantian antar waktu (PAW) caleg PDIP Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatra Selatan 1.
 
Harun diduga melobi Wahyu lewat mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina. Uang Rp400 juta dalam pecahan mata uang dolar Singapura disita KPK saat tangkap tangan Wahyu.
 
Wahyu telah divonis enam tahun penjara serta denda Rp150 juta subsider enam bulan kurungan. Dia terbukti menerima suap SGD57.350 atau setara Rp600 juta. 

 
(ADN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif