Novanto Percayakan Irvanto Menyimpan Uang Suap
Suasana sidang kasus suap Bakamla/edcom.id/Damar Iradat
Jakarta: Mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto disebut memercayai keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi, menyimpan uang. Uang itu diduga untuk diberikan kepada sejumlah pemilik suara pada Munas Golkar 2016.

Hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan perkara suap di Badan Keamanan Laut (Bakamla) dengan terdakwa Fayakhun Andriadi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu, 12 September 2018. Jaksa menghadirkan Sekretaris DPD Golkar DKI Jakarta Basri Baco dan dari pihak Swasta Arif Rahman.

Mulanya, jaksa membacakan keterangan Basri dalam berita acara pemeriksaan (BAP) ihwal peran Irvanto dalam Munas Golkar 2016.


"Dalam BAP nomor 12 angka 5: Seingat saya saudara Fayakhun juga mengatakan bahwa ada uang juga yang diterima ketua wilayah dari saudara Irvan, keponakan Setya Novanto. Dia bertindak sebagai orang kepercayaan Setya Novanto untuk menyimpan uang. betul seperti itu?" tanya jaksa kepada Basri.

Baca: Fayakhun Ancam tak Kawal Anggaran Bakamla bila tak Ada Fee

Basri awalnya mengaku tidak pernah memberikan keterangan tersebut kepada penyidik. Namun, pada akhirnya, ia membenarkan ketika ditanya jaksa pernyataan tersebut berkaitan dengan Munas Golkar 2016.

"Kalau konteksnya Munas, iya benar," tutur Basri.

Nama Irvanto juga sempat disebut dalam persidangan sebelumnya. Salah satu staf Fayakhun, Agus Gunawan, sempat mengantarkan tas berisi uang kepada Irvanto. Awalnya, Fayakhun memerintahkan untuk menyerahkan tas berisi uang ke Irvanto.

Agus mengatakan kejadian itu bermula saat ia mendampingi Fayakhun menghadiri acara di Pejaten, Jakarta Selatan. Fayakhun kemudian menitipkan sebuah tas untuk Irvanto.

Uang itu diduga diberikan Fayakhun untuk Novanto melalui Irvanto sebagai perantara. Uang itu bagian dari fee 1 persen yang diterima Fayakhun karena telah mengawal alokasi penambahan anggaran Bakamla 2016.

Fayakhun sebelumnya didakwa menerima suap US$911.480 terkait proyek satelit monitoring di Bakamla. Uang itu ia terima setelah bersedia mengawal usulan penambahan anggaran.

Dia didakwa melanggar Pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

 



(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id