Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono. Medcom/P Aditya Prakasa
Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono. Medcom/P Aditya Prakasa

Mabes Polri Siapkan Pengacara untuk Penyiram Novel

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 14 Mei 2020 11:33
Jakarta: Mabes Polri menyiapkan pengacara untuk memberikan pendampingan kepada dua penyiram air keras ke penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis. Pendampingan itu dinilai sesuai dengan prosedur.
 
"Divisi hukum Polri salah satu tugasnya memberikan pendampingan kepada anggota yang bermasalah dengan hukum," kata Kepala Divisi Humas Polri, Brigjen Argo Yuwono, Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020.
 
Tim penasihat hukum Novel keberatan atas pemberian pendampingan hukum untuk kedua terdakwa itu. Namun, Argo menyarankan kubu Novel menyampaikan keberatan itu di persidangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau keberatan di persidangan ya, disampaikan dalam sidang," ujar dia.
 
Sebelumnya, tim advokasi penyidik KPK Novel Baswedan membeberkan sembilan kejanggalan persidangan kasus penyiraman air keras. Persidangan dinilai belum memenuhi harapan untuk menggali kebenaran fakta materiel kasus tersebut.
 
Pertama, dakwaan jaksa dinilai memunculkan skenario untuk menutup pengungkapan aktor intelektual dan menghukum ringan pelaku, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette. Dakwaan tidak menyebut kasus penyerangan itu berkaitan dengan pekerjaan Novel di KPK
 
"Dakwaan jaksa penuntut umum sangat bertentangan dengan temuan tim pencari fakta bentukan Polri untuk kasus Novel Baswedan yang menemukan bahwa motif penyiraman air keras terhadap Novel yang berkaitan dengan kasus-kasus korupsi besar yang ditanganinya," ujar anggota tim advokasi Novel, Kurnia Ramadhana, di Jakarta, Senin, 11 Mei 2020.
 
Dakwaan tidak merujuk pada fakta aktor yang menyuruh kedua terdakwa melakukan tindak pidana itu. Jaksa dinilai sebagai pengendali penyidikan, satu skenario dengan kepolisian untuk mengusut kasus hanya sampai pelaku lapangan.
 
Kedua, jaksa terlihat tidak menjadi representasi negara yang mewakili kepentingan korban dalam hal ini Novel. Sebab dalam sidang, jaksa tak mengorek lebih lanjut informasi kemungkinan adanya keterlibatan aktor lain.
 
Baca: Empat Tetangga Novel Bakal Bersaksi di Persidangan
 
Ketiga, majelis hakim dinilai terlihat pasif dan tidak objektif mencari kebenaran materiel. Fakta-fakta sebelum penyerangan terjadi untuk membuktikan bahwa serangan dilakukan secara sistematis dan terorganisir tidak digali.
 
Keempat, para terdakwa yang masih anggota Polri aktif didampingi kuasa hukum Polri. Pembelaan oleh Polri dinilai bakal menghambat proses hukum untuk membongkar kasus yang diduga melibatkan anggotanya dan juga petinggi Korps Bhayangkara.
 
Kelima, yakni adanya dugaan manipulasi barang bukti di persidangan. Mulai CCTV yang tak dihiraukan penyidik hingga sidik jari yang tidak mampu diindentifikasi kepolisian pada gelas dan botol yang dijadikan alat untuk melakukan penyiraman terhadap Novel.
 
"Persidangan Kamis, 30 April 2020 baju Novel yang pada saat kejadian utuh, dalam persidangan ditunjukkan hakim dalam kondisi terpotong sebagian di bagian depan. Diduga bagian yang hilang terdapat bekas dampak air keras," ujar Kurnia.
 
Keenam, jaksa disebut mengaburkan fakta air keras yang digunakan untuk penyiraman. Jaksa justru mengarahkan bahwa air yang mengakibatkan kebutaan pada mata Novel bukan air keras.
 
Ketujuh, kasus kriminalisasi Novel kembali diangkat untuk mengaburkan fokus pengungkapan motif penyerangan. Ini dilihat selama proses peradilan berjalan terdapat pergerakan untuk kembali memojokkan Novel dalam kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu.
 
Kedelapan, dihilangkannya alat bukti saksi dalam berkas persidangan. Saksi-saksi penting dan relevan dari pihak korban yang tidak dihadirkan jaksa.
 
"Hal ini merupakan temuan dugaan pelanggaran serius, bentuk upaya sistematis untuk menghentikan upaya membongkar kasus penyerangan Novel secara terang," tegas Kurnia.
 
Kesembilan, pada pemeriksaan saksi Novel Kamis, 30 April 2020, ruang pengadilan dipenuhi aparat kepolisian dan orang-orang yang diduga dikoordinasikan untuk menguasai ruang persidangan. Bangku pengunjung mestinya dapat digunakan bergantian oleh seluruh pengunjung, dikuasai orang-orang tertentu.
 
"Sehingga publik maupun kuasa hukum dan media yang meliput tidak dapat menggunakan fasilitas bangku pengunjung untuk memantau proses persidangan," ucap Kurnia.
 
Dalam kasus ini, Ronny dan Rahmat didakwa melakukan penganiyaan berat kepada Novel secara bersama-sama dan direncanakan. Perbuatan itu berupa menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) ke badan dan muka Novel.
 
Perbuatan Rahmat dan Ronny membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.
 
Ronny dan Rahmat didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif