ilustrasi/medcom.id
ilustrasi/medcom.id

Komnas HAM Jelaskan Alasan Penembakan Laskar FPI Disebut Unlawful Killing

Aria Triyudha • 01 Desember 2021 08:08

Keempat laskar tersebut tewas setelah mobil berangkat dari rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek menuju Mapolda Metro Jaya. Padahal, keempat laskar ini dalam penguasaan resmi aparat negara.
 
Sementara, ujar Endang, dua laskar FPI lainnya yang tewas lebih dahulu masuk dalam kategori penegakan hukum. Pasalnya,  terjadi bentrok antara kedua laskar FPI ini dengan polisi
 
"Kematian (dua laskar) tersebut kami katakan penegakan hukum. Karena memang terjadi saling serang," ucap Endang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terkait unlawful killing, dua anggota Polda Metro Jaya, Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella dikenakan dakwaan primair Pasal 338 KUHP tentang Tindak Pidana Pembunuhan dan dakwaan subsidair Pasal 351 KUHP tentang Tindak Pidana Penganiayaan.
 
JPU menyebut perbuatan kedua terdakwa mengakibatkan meninggalnya empat laskar FPI, yaitu M Luthfi Hakim, Akhmad Sofyan, M Reza, dan Muhammad Suci Khadafi Poetra. Mereka ditembak di dalam mobil Daihatsu Xenia warna silver nomor polisi B 1519 UTI di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek pada 7 Desember 2020.
 
Diketahui, ada enam laskar eks FPI tewas dalam dua kejadian terpisah. Pertama, dua laskar meregang nyawa saat baku tembak dengan polisi di Jalan International atau Jalan Interchange Kabupaten Karawang, Senin dini hari, 7 Desember 2020.
 
Selanjutnya, empat laskar meninggal dunia setelah polisi disebut mengambil tindakan tegas dan terukur di dalam mobil ketika menuju Mapolda Metro Jaya dari rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek. Langkah polisi tidak dibenarkan Komnas HAM. Hasil investigasi Komnas HAM menilai terdapat dugaan unlawful killing kepada empat laskar FPI tersebut.
 
(NUR)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif