Politikus Partai Gerindra Permadi Satrio Wiwoho (tengah) - Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Politikus Partai Gerindra Permadi Satrio Wiwoho (tengah) - Medcom.id/Siti Yona Hukmana.

Permadi Mengaku Tak Akrab dengan Eggi Sudjana

Nasional kasus makar
Siti Yona Hukmana • 21 Mei 2019 08:52
Jakarta: Politikus Partai Gerindra Permadi Satrio Wiwoho mengaku tidak akrab dengan tersangka kasus dugaan makar Eggi Sudjana. Kemarin, selama kurang lebih 13 jam dia diperiksa sebagai saksi.
 
"Ada 50 pertanyaan. Pertama, apa saya kenal Eggi Sudjana, saya kenal tapi tidak akrab dan belum tentu setahun sekali ketemu. Saya juga enggak punya nomor handphone-nya dan Eggi enggak punya nomor handphone saya," kata Permadi di Polda Metro Jaya, Senin, 20 Mei 2019 malam.
 
Dalam pemeriksaan Permadi juga mengaku ditanya soal people power. Dia menegaskan punya pandangan berbeda dengan Eggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tetapi dalam ideologi pun ada perbedaan pendapat. Saya seorang nasionalis Soekarnois, Eggi seorang Islam," imbuh dia.
 
Meski demikian, Permadi mengaku puas dengan pemeriksaan yang ia jalani. Permadi bisa mengklarifikasi semua hal.
 
Termasuk, pernyataan soal revolusi yang disampaikan di Gedung DPR, Rabu, 8 Mei 2019. "Itu digali apa yang saya maksud dengan revolusi, apa itu penyambung lidah Bung Karno dan lain-lain. Ya semua saya jawab seperti keyakinan saya. Saya berpikir apakah itu memberatkan apa meringankan. Saya menjawab sesuai hati nurani saya, keyakinan saya," beber Permadi.
 
(Baca juga:Permadi Dicecar Soal Petisi Kivlan Zen)
 
Eggi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan makar pada Selasa, 7 Mei 2019. Penyidik menemukan sejumlah alat bukti yang cukup untuk Eggi, di antaranya video Eggi yang menyuarakan people power dan bukti pemberitaan di media daring.
 
Penyidik juga sudah memeriksa enam saksi dan empat ahli. Keterangan tersebut kemudian dicocokkan dengan barang bukti dan dokumen yang telah disita.
 
Setelah penetapan tersangka, penyidik meringkus Eggi pada Selasa, 14 Mei 2019. Politikus PAN itu dinilai penting ditangkap untuk memenuhi prosedur penyidikan.
 
Penangkapan dilakukan agar Eggi tidak bisa menghindari panggilan pemeriksaan. Pasalnya, Eggi sempat menolak diperiksa. Dia meminta polisi memerika saksi dan ahli yang diajukan pihaknya.
 
Eggi juga sedang mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saat diperiksa, dia juga emoh memberikan telepon genggamnya kepada penyidik.
 
Penyidik menahan Eggi pada Selasa, 14 Mei 2019, sekitar pukul 23.00 WIB. Ia dimasukkan ke dalam ruang tahanan Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti) Polda Metro Jaya. Ia ditahan untuk 20 hari ke depan.
 
Dia diduga melakukan kejahatan terhadap keamanan negara atau makar, menyiarkan suatu berita yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan masyarakat, atau menyiarkan kabar yang tidak pasti. Eggi disangka melanggar Pasal 107 KUHP dan atau 110 KUHP juncto Pasal 87 KUHP dan atau Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan atau Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana. Dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif