Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam konferensi pers kasus aborsi di Bekasi, Rabu, 10 Februari 2021. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam konferensi pers kasus aborsi di Bekasi, Rabu, 10 Februari 2021. Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana

Digerebek Polisi, Pasutri di Bekasi Jadikan Rumah Tempat Aborsi Ilegal

Nasional polri polisi lembaga hukum kapolri penegakan hukum aborsi ilegal
Siti Yona Hukmana • 10 Februari 2021 13:19
Jakarta: Polda Metro Jaya menggerebek rumah di Padurenan, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat. Rumah pribadi yang dihuni pasangan suami istri (pasutri) itu dijadikan sebagai tempat praktik aborsi ilegal.
 
"Tiga tersangka kita amankan pertama adalah ER, ST, dan RS," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Februari 2021. 
 
Yusri membeberkan peran ketiga tersangka. ER berperan sebagai pelaku aborsi, ST berstatus sebagai suami ER yang berperan mencari pasien, dan RS pasien aborsi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita masih dalami karena pengakuannya baru empat hari tapi sudah ada lima pasien yang aborsi," ujar Yusri. 
 
Baca: Lingkaran Setan Klinik Aborsi Ilegal
 
Menurut dia, ER tidak memiliki kompetensi untuk praktik aborsi. Dia bukan dokter, hanya pernah bekerja di klinik aborsi kurang lebih selama empat tahun pada 2000. 
 
"Tugasnya sebagai membersihkan (klinik aborsi), " ucap Yusri. 
 
ER, kata dia, hanya bisa menggugurkan kandungan usia delapan minggu ke bawah. Cara pemusnahan janin menggunakan obat dan zat kimia. 
 
"Sebab, masih gumpalan darah," ucap Yusri
 
Pengungkapan kasus ini terjadi pada Senin, 1 Februari 2021, di kediaman ER dan ST. Rumah itu dijadikan tempat praktik aborsi secara diam-diam.
 
"Yang kita ungkap ini di rumah sendiri tapi dia punya link calo di luar. Ini rumah pribadi dan tidak ada plang praktek klinik," ungkap Yusri. 
 
Polisi menyita sejumlah barang bukti. Hal ini meiputi satu kantong plastik jasad janin hasil aborsi, satu set alat vakum, tujuh botol air infus berikut selang, satu plastik suntikan dan kapas, satu plastik cytotec misoprostol 200 mikrogram, satu botol antiseptik dan Betadine, satu kotak obat perangsang aborsi (oxytocin), satu kotak parasetamol dan satu kotak etobin. 
 
Selain itu, polisi menyita dua ponsel merk Xiaomi berwarna gold dan merk Vivo berwarna biru muda, satu alas tidur atau karpet, 11 gunting, uang tunai Rp39.400.000, satu ikat plastik berisi foley balloon catheter, dan lima pembalut.
 
Ketiga tersangka telah ditahan. Mereka dijerat Pasal 194 juncto Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009  tentang Kesehatan dan/atau Pasal 77A juncto Pasal 45A UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 53 ayat (1) dan Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Pasal ini mengatur hukuman masing-masing 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar. 
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif