Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

3 Orang Jadi Tersangka Perdagangan Orang ABK WNI

Nasional ABK WNI
Cindy • 20 Mei 2020 19:45
Jakarta: Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menetapkan tiga tersangka tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terhadap 20 anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) di Kapal Long Xing 629. Para tersangka yakni W, J, dan F sebagai penyalur tenaga kerja ke kapal berbendera Tiongkok itu.
 
"Dari tiga terangka tersebut kita lakukan pemeriksaan kemudian kita tetapkan tersangka dan dilakukan penahanan di Rutan (Tumah Tahanan) Bareskrim Polri," kata Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Ferdi Sambo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 20 Mei 2020.
 
Ferdi membeberkan peran tersangka W dari PT APJ merekrut dan memberangkatkan delapan ABK ke Busan, Korea Selatan. Kemudian, tersangka J dari PT SNG merekrut serta memberangkatkan tujuh ABK.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara tersangka F dari PT LBP merekrut lima ABK. Dari 20 ABK tersebut, empat orang meninggal akibat sakit selama melaut.
 
Para tersangka menjanjikan upah USD300-400 per bulan kepada ABK di kapal Tiongkok itu. Kenyataannya, sebagian ABK belum menerima gaji atau mengalami pemotongan gaji.
 
"Mereka juga dengan ekonomi rentan dimanfaatkan tenaganya. Ada juga perlakuan 30 jam bekerja dan beberapa kekerasan fisik dialami," ujar Ferdi.
 
Para tersangka dijerat Pasal 85 dan atau Pasal 86 huruf c Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan/atau Pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO. Mereka terancam pidana penjara maksimal 15 tahun.
 
Baca: Tiongkok Jalankan Investigasi Komprehensif Kasus ABK WNI
 
Dugaan perbudakan ABK asal Indonesia bermula dari laporan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia. DFW menyebut ada ABK Herdianto yang diduga tewas setelah disiksa. Jenazahnya kemudian dilarung di Laut Somalia.
 
"Sebelum meninggal, Herdianto terindikasi mengalami penganiayaan berupa tindakan kekerasan fisik (pukulan dan tendangan dengan menggunakan pipa besi, botol kaca, dan setrum)," kata M Abdi Suhufan dari DFW Indonesia, Minggu, 17 Mei 2020.
 

(OGI)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif