Juru bicara KPK Febri Diansyah. ANT/Aprilio Akbar.
Juru bicara KPK Febri Diansyah. ANT/Aprilio Akbar.

KPK Pastikan Petinggi Humpuss Transportasi Terlibat Suap

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 21 Juni 2019 17:13
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan memiliki bukti keterlibatan sejumlah pihak dalam kasus dugaan suap yang menjerat General Manager Commercial PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti. Termasuk, Direktur PT HTK Taufik Agustono.
 
Jaksa penuntut mendakwa Asty bersama-sama dengan Taufik Agustono melakukan suap. Tak hanya mengetahui, Taufik Agustono disebut merestui dan memerintahkan pemberian suap kepada anggota komisi VI DPR, Bowo Sidik Pangarso senilai Rp311.022.932 dan USD158.733.
 
"Tentu semua yang ditulis di dakwaan itu didukung oleh dokumen-dokumen atau bukti-bukti yang sudah didapatkan pada proses penyidikan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Jumat, 21 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lembaga Antirasuah meminta publik mengawal penanganan perkara suap jasa penyewaan kapal antara PT HTK dan PT Pupuk Indonesia Logistik (PT Pilog). Sebab, perkembangan fakta persidangan Asty dapat menentukan pengembangan penanganan perkara untuk pelaku lain.
 
"Jadi kan Ini baru persidangan pertama artinya masih cukup panjang perjalanan persidangan dan pembuktian ke depan," ujar dia.
 
Baca:KPK Bidik Korporasi di Kasus Bowo Sidik
 
Asty Winasti didakwa menyuap Bowo senilai Rp311.022.932 dan USD158.733. Pemberian suap itu dilakukan bersama-sama atau turut melibatkan Taufik Agustono.
 
Jaksa menyebut suap itu dimaksudkan agar Bowo Sidik membantu PT HTK mendapatkan kerja sama pekerjaan pengakutan dan atau sewa kapal dengan PT Pilog. Pemberian uang dilakukan secara bertahap.
 
Penerimaan uang suap itu melibatkan anak buah Bowo di PT Inersia Ampak Engineers (PT IAE), Indung Andriani. Rincian pemberian uang suap itu yakni:
 
- 1 Oktober 2018 sebesar Rp221.522.932 di Rumah Sakit Pondok Indah melalui orang kepercayaan Bowo Sidik, Indung Andriani.
 
- 1 November 2018 sebesar USD59.587 di Coffee Lounge Hotel Grand Melia melalui Indung Andriani.
 
- 20 Desember 2018 sebesar USD21.327 di Coffee Lounge Hotel Grand Melia melalui Indung Andriani.
 
- 26 Februari 2018 sebesar USD7.819 di kantor PT HTK melalui Indung Andriani.
 
- 27 Maret 2019 sebesar Rp89.449.000 di kantor PT HTK melalui Indung Andriani.
 
Suap PT HTK itu juga melibatkan perusahaan milik Bowo, PT IAE. Modusnya dengan membuat MoU antara PT HTK dengan PT IAE. MoU ini berisi kesepakatan mengenai management komersial yang di dalamnya mencantumkan management fee.
 
Padahal MoU yang juga ditandatangani Taufik Agustono ini dibuat hanya formalitas, untuk administrasi pengajuan pengeluaran PT HTK guna pemberian commitment fee kepada Bowo Sidik Pangarso, sehingga seolah-olah sebagai transaksi biasa.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif